Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
21 Nov 2016   12:43:04 am
KERIS TERUS DISOSIALISASIKAN


LPDP (Lembaga pengelola Dana Pendidikan) - Depok 4 - 11 - 2016

Ceramah di acara pelepasan teman-teman yang akan berangkat belajar ke Luar Negeri....

rembug budaya untuk menambah pengetahuan budaya, terutama tentang keris.

Toni Junus Kanjeng NgGung, menyerahkan buku TAFSIR KERIS setelah membawakan makalah singkat, padat dan jelas......
Category : Album | By : administrator

21 Nov 2016   12:29:01 am
ASTA JAYA - Ajang Silarurahmi Tosan Aji JAYA



Telah di Deklarasikan oleh 39 orang (deklarator),

nama paguyuban ASTA JAYA (Ajang Silaturahmi Tosan Aji - Jakarta Raya).

Pada 19 Nop 2016, Kanem, Sabtu Pon, Maktal - Segoro Waseso - Keris Jalak.

Di Museum Pusaka TMII.

Dan terpilih

POKJA Pelaksana - Abdul Fatah, Andrianto Artkeris Masto, Cakra Wiyata, Toni Junus Kanjeng NgGung;

POKJA Komisi Ahli/Penasehat - Buntje Harbunangin, KP. Noto Padmodiningrat, Joko Hamiluhur, Guntur Setyanto, Bambang Eko Priyono....

POKJA bertugas menyelenggarakan RAKER 1.

Semoga kedepannya berjalan lancar.
Category : Album | By : administrator

15 Nov 2016   02:16:42 am
KECELAKAAN SEJARAH kedua kalinya, Quo Vadis SNKI ???
R. Prasena Cakra Adi Ningrat


Sejarah panjang perkerisan Nasional jika kita mulai saat Piagam Unesco 25 November 2005 hingga kini, seharusnya sudah masuk dalam rentang waktu 11 tahun. Itu bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah perjalanan sejarah perkerisan dan organisasi perkerisan nasional. Pasca piagam Unesco para pekeris Nasional berkumpul di benteng Vredenburg Jogjakarta pada tanggal 12 Maret 2006 untuk melakukan Deklarasi terbentuknya Sekretariat Nasional Pekerisan Indonesia yang kemudian disingkat SNKI (bukan SNPI hahahaha....). Saat itu dibuatlah naskah Deklarasi lahirnya SNKI dan terpilihnya Sekretaris Jendral SNKI yaitu KP.Wiwoho Basuki Tjakrahadiningrat, MSc yang menjadi komandan SNKI sampai 5 tahun ke depannya.

Selama masa kepemimpinan Bopo Wiwoho Basuki, organisasi perkerisan nasional SNKI mengalami pasang surut aktifitas. Tidak ada aktifitas nasional yang bergengsi, kecuali ajang KFTW (Keris For The World) tahun 2010 di Jakarta. Selebihnya aktifitas daerah kecil-kecilan yang senyatanya dilakukan sendiri oleh paguyuban daerah tanpa campur tangan SNKI. Roda organisasi sangat bergantung pada donasi pribadi dari ”kocek” pak Sekjend. Kita ketahui bersama bahwa Mr.Sekjend sampai mengeluarkan dana Milyaran rupiah dari kocek pribadi untuk menghidupi SNKI. Hal itu semata karena tidak ada bantuan sepeser pun dari Unesco maupun pemerintah untuk pembinaan organisasi SNKI. Pemerintah tidak mengguyurkan anggaran tetap untuk hal ini. Tetapi hanya menerima pengajuan proposal by event yang diselenggarakan oleh SNKI dan atau paguyuban daerah lainnya yang mengajukan proposal kegiatan perkerisan. Wal hasil SNKI tidak punya mata anggaran pembinaan di Kementrian (pemerintah) dan harus menghidupi dirinya sendiri.

Belum lagi adanya ”kesalahpahaman” atau miss-persepsi antara SNKI dengan pemerintah, dimana saat Sekjend SNKI meminta Audiensi dengan pemerintah, maka dijawab oleh Kementrian: Lho kok Sekjend nya yang mau menghadap? Lha Ketuanya mana? Hahahahaha..... Sebuah ironi bahwa ternyata pemerintah juga tidak paham akan struktur organisasi SNKI yang memang dikomandani oleh seorang Sekjend bukan seorang Ketua Umum.

Kepengurusan SNKI hasil Deklarasi Jogja ini berakhir saat Kongres SNKI 1 di Solo bulan April 2011. Saat itu terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam organisasi SNKI. Jabatan tertinggi SNKI tidak lagi seorang Sekjend tapi Ketua Umum. Penyempurnaan AD/ART organisasi juga tidak sepenuhnya tuntas dalam forum tersebut. Program Kerja Nasional juga terkesan asal-asalan dibuat. Dan yang paling spektakuler adalah terpilihnya Bopo KP. DR. Erman Soeparno, MBA mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ”era Gus Dur” sebagai komandan baru SNKI dengan sebutan Ketua Umum.

Terpilihnya Bopo Erman pada mulanya cukup memberikan angin segar di kalangan penggiat perkerisan nasional. Walaupun beliau mengaku hanya punya keris 3 bilah saja, tetapi semangat membesarkan SNKI cukup terlihat pada awalnya. Namun... kecelakaan sejarah yang pertama terjadi... SNKI ternyata tetap saja tidak berubah karena mengandalkan dana yang tidak diperolehnya dari Kementrian atau pemerintah. SNKI harus ”cari uang sendiri”, dan hal ini ternyata tidak sama antara Rezim Bopo Wiwoho dengan Rezim Bopo Erman.

Saat kepemimpinan Bopo Erman ... mencari dana untuk operational SNKI sangat sangat sangat susah dan sulit bin ”ngoyo banget”. Belum lagi kemudian ”kabar miring” terdengar oleh para penggiat perkerisan nasional bahwa ternyata komandan SNKI harus disibukkan dengan ”urusan hukum” yang sedang dialami beliau dengan lembaga anti rasuah yang ada. Woww.... praktis semua jajaran pengurus tiarap... tidak ada satupun akhirnya yang berani menginisiasi terselenggaranya sebuah kegiatan perkerisan. Wal hasil... tanpa dana dan tanpa aktifnya Komandan sebagai penggerak... akhirnya SNKI boleh dibilang ”MATI SURI”. Kata orang Sumatera: Bagaikan bunga yang tumbuh di batu karang, hidup segan mati tak mau.

Itulah kecelakaan sejarah pertama....

Selanjutnya kemudian, SNKI hasil Kongres 1 di Solo bulan April 2011, seharusnya berakhir kepengurusannya pada April 2016 yang lalu. Terjadi kevakuman organisasi alias status ”Domisioner” mulai April sampai dengan 12 November 2016 saat digelarnya kembali Kongres SNKI 2 di Solo (juga).

Wow... wow ... wow... hampir 7 (tujuh) bulan lebih SNKI pada posisi ”Domisioner”.

Akan tetapi jika hal ini pun masih bisa “dipahami dan dimengerti” oleh para penggiat perkerisan nasional, maka seharusnya harapan baru sewajarnya diletakkan pada suksesnya Kongres 2 SNKI berikutnya. Namun ternyata, jauh panggang dari api. Forum Kongres yang semula diharap-harapkan oleh seluruh paguyuban kota/kabupaten se Indonesia, ternyata pelaksanaannya dipaksakan. Tidak adanya forum pertemuan sejenis pra Kongres atau Munas atau Rapimnas yang menghadirkan para pimpinan Paguyuban di daerah tidak diselenggarakan. Kongres dipaksakan dilakukan di ISI Solo yang nota bene paguyuban di Solo dan para pekeris di Solo pun tidak mendukungnya. Padahal ada tawaran baik agar Kongres 2 SNKI bisa dilakukan di Malang Jawa Timur.

Beberapa minggu sebelum Kongres 2 SNKI dilaksanakan, sudah terdengar kabar yang kurang menyenangkan. Seperti, calon Ketua Umum SNKI nya sudah ditetapkan dan beliau siap mengucurkan dana cukup besar untuk hal tersebut. Jumlah anggota SNKI yang semula terdiri dari 76 paguyuban dan institusi melar menjadi 137 anggota yang tidak hanya terdiri dari paguyuban kota/kabupaten tetapi juga para komunitas/bakul keris dan gerai keris yang pedaftarannya sebagai anggota SNKI terkesan dipaksakan. Ini yang disebut oleh rekan-rekan penggiat perkerisan sebgai “penumpang gelap” Kongres 2 SNKI. Sebagai contoh saja di Sumenep ada 60 Undangan Kongres yang terdiri dari pribadi dan atas nama komunitas. Lalu… komunitas seperti apa itu???

Nah.. Apa yang terjadi kemudian di Kongres 2 SNKI di ISI Solo?

Seperti yang diduga banyak pihak, terpilihlah DR.Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI, menggantikan Bopo Erman Suparno sebagai komandan baru SNKI alias Ketua Umum SNKI. Dalam pemberitaan di Kompas.comdisebutkan bahwa Fadli Zon terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum SNKI periode 2016-1021 oleh 156 paguyuban yang hadi di Kongres. Haaah…. 156 paguyuban keris? Amazing…. Angka 76 paguyuban di Kongres 1 SNKI kemudian berubah menjadi 137 Undangan Paguyuban untuk hadir di Kongres 2 SNKI, kemudian berubah kembali melar menjadi 156 paguyuban… wow .. wow.. wow… sangat fantastis untuk ukuran sebuah kehadiran di Kongres.
Pertanyaannya kemudian …. Siapakah 156 paguyuban keris tersebut?

Agak susah mengatakannya, karena sejatinya … fakta di lapangan … Paguyuban-paguyuban di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlahnya luarbiasa banyak ternyata tidak ada yang hadir di Kongres 2 SNKI tersebut, kalaupun ada hanya sedikit saja yang kebetulan hadir dan itu masih bisa dihitung dengan kurang dari sepuluh jari tangan kita.
Hmmmm.... inilah fakta. Ada indikasi paguyuban yang disebutkan 156 itu bukanlah paguyuban yang sebenarnya. Itu yang diduga dipaksanakan sebagai peserta Kongres untuk mengamankan rencana Kongres agar lancar dan sesuai yang ”diinginkan”.

Lalu apa yang saya sebut sebagai ”kecelakaan kedua kalinya” adalah bahwa ternyata terpilihnya Ketua Umum SNKI yang baru sejatinya tidak didukung oleh paguyuban-paguyuban di Jateng dan Jatim yang nyata-nyata merekalah yang selama ini menyelenggarakan aktifitas perkerisan baik skala lokal, regional maupun nasional. Dan konon dari 12 deklarator berdirinya SNKI tahun 2006, yang hadir hanya 4 deklarator saja.

Berikutnya adalah adanya kabar baru dari seorang teman, bahwa ternyata SNKI bukanlah sebagai satu-satunya Organisasi yang diakui Unesco dan pemerintah (Kementrian). Ternyata SNKI hanya melaporkan kegiatannya selama 6 tahun sekali ke kementrian untuk kemudian diolah dan dilaporkan ke Unesco. Dan ini tidak harus dan tidak hanya SNKI saja. Bisa juga organisasi perkerisan lainnya atau paguyuban-paguyuban di daerah. Jadi apa yang sementara ini dipahami para pekeris nasional, bahwa SNKI adalah satu2nya Organisasi yang diakui Unesco dan Pemerintah (kementrian) adalah SALAH BESAR dan TIDAK BENAR.

Wow... wow... wow... lalu untuk apa hanya mengandalkan SNKI? Yang ternyata selama ini tidak memiliki nilai tambah apapun bagi paguyuban di daerah. Dan Kongres 2 SNKI ternyata juga tidak didukung ”akar rumput” yaitu para paguyuban besar dan para deklarator SNKI.

Lha kalau gitu yaa... mending bikin Organisasi baru saja.... yang benar-benar riil dan mengakar dan sangat-sangat diterima di kalangan pekeris nasional yang nyata aktifitas dan kegiatannya.

So.... Quo Vadis SNKI ???


(jawabnya: #versi Malangan- Jawa Timuran; Babahno po’o SNKI... Ayoook nggawe dewe ae Reekkk... Oyiiii ??? )
(Prasena-14 Nov 2016)
Category : Album | By : administrator

 
1 2 3 ...31 32 33 Next
Nov 2016 December 2016 Jan 2017
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Categories
Album[55]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
KERIS TERUS DISOSIALISASIKAN
ASTA JAYA - Ajang Silarurahmi Tosan Aji JAYA
KECELAKAAN SEJARAH kedua kalinya, Quo Vadis SNKI ???
Menjelang KONGRES SNKI Ke II.....
TEKA-TEKI MANGKUBUMEN DAN BROJOGUNO
Kyai Guntur Geni dan Keris Brojoguno
KERIS TANGGUH KAJORAN....
MENGENANG SANG DEKORATOR - SOEGENG PRASETYO
KERIS BROJOGUNO
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
Archives
January 2013[5]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[9]
May 2010[11]
March 2010[11]
February 2010[11]
December 2009[6]
November 2009[16]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[99]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter