|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 08 Jun 2011 06:25:48 am |
GAYA SEBUAH KARYA |
|
|
Karya TJ untuk Whisnu Wardhana dengan perhitungan tanggal lahir Wuku dan Weton
Pada jaman Majapahit, dari penyembahan kepada sang waktu (kala) seorang empu melakukan persembahyangan dengan khusyuk kepada Sang Hyang Widi. Lalu datang inspirasi untuk membuat keris yang secara tradisi berlekuk dengan alur yang sudah memiliki pakem (aturan) lalu dirubahnya pada luk yang terakhir dibuat menjadi lurus menuding ke angkasa (mega), lalu disebutlah Megantara. Dari sorsoran digambarkanlah burung merpati sebagai sebuah perlambangan roh suci.
Sebuah konsep Megantara Pudak Setegal merupakan perenungan yang kemudian saya tuangkan dalam sebuah design dengan "Pamor" dari Nantan yang berhasil menimbulkan sebuah alur pamor yang unpredictable sebagai pamor tiban (jatuh dari angkasa). Penambahan Pudak Setegal sebagai pagar atau gerbang untuk aksentuasi pada kedalaman spiritualnya. Pudak setegal adalah tanaman jenis Lamtoro yang ditanam di samping kiri dan kanan dari sebuah jalan diantara persawahan. Pudak setegal juga merupakan nama jenis tanaman yang berbunga runcing sebagai simbol kewaspadaan untuk menuju kepada hidup suci. Lalu alangkah gagahnya jika finishing touchnya dengan penghayatan gaya Surakarta Hadiningrat, dengan akurasi lekuk yang hidup... Bagi saya ini sebuah karya pembaharuan yang mudah-mudahan banyak diputrani (dicopy) sehingga menjadi pengayaan gaya keris untuk masa mendatang.
TJ. |
|
| |
Category : Estetika Keris
| Posted By : administrator |
|
|
| 21 May 2011 08:11:37 am |
"KERIS KAMARDIKAN" KONTEMPORER |
|
|
Karya Kontemporer yang juga sudah ada pada jaman dahulu.
Ki: KK. Satriyo Gugah karya KRT. Toni Junus Kartika Adinagoro; Ka: Putran keris Tua jaman Kedfiri.
Keris (tangguh tua) pada waktu itu sudah mengalami prosesi ‘intelektualism’, ‘estetik’ dan ‘orisinalitas ide’ kita sebut I-E-O, seperti pada penciptaan awal para empu pada lahirnya dhapur babon/pancer dan jenis-jenis pamor yang kemudian memiliki istlahnya masing-masing. Maka, bukanlah hal yang mengada-ada jika keris Kamardikan akan memenuhi prosesi tersebut diatas dengan latar kultural yang modern sebagai ekspresi para seniman keris, bahkan mungkin akan berbicara hingga pada tataran kritik sosial - politik.
Jika ada ruang publik yang tersedia untuk kawula perkerisan, maka ajang yang perlu digelar adalah dengan menguji karya berkonsep pada keris Kamardikan kontemporer yang memenuhi bobot I-E-O. Sebagai implementasi pelestarian menuju nilai ’universal’ dari sebuah karya seni (keris) untuk tidak hanya dikhusyuki oleh komunitas yang kecil terbatas, melainkan dapat dinikmati oleh banyak orang. Maka pada perilaku penghayatan maguru alam dan kehidupan, serta perenungan religius keris otomatis akan mendudukkan kembali adanya pesan spiritual yang esensial dalam dunia modern sebagai manusia modern. Bukan keris dalam kungkungan “klenik” dan gaib yang sensasional.
'Keris’ pada saatnya, dapat berbicara kepada awam baik melalui ‘rupa’ maupun kedalaman konsepnya (bukan tuahnya) tanpa pengetahuan yang ekslusif.
Selanjutnya Klik : http://keriskamardikan.com/id/artikel/71?start=3
Salam,
TJ
- |
|
| |
Category : Estetika Keris
| Posted By : administrator |
|
|
| 05 May 2011 10:32:33 am |
TEKSTUR KERIS MERUPAKAN AKSEN BUATAN |
|
|
Keris tangguh Kediri berpamor miring, merupakan keris temuan sungai Brantas di Mojo Agung.
Keris berpamor nyekrak merupakan seni tersendiri untuk memberi aksen terutama pada keris berpamor miring.
Hipotesa atau dugaan bahwa teknik membuat keris bertekstur ’nyekrak’ memang sengaja dilakukan oleh empu jaman dahulu dapat dibuktikan dengan adanya beberapa keris yang secara visual berpamor kasar ’nyekrak’ seperti yang ditemukan pada keris tua. Beberapa pendapat menyatakan bahwa keris berpamor ’nyekrak’ adalah karena korosi atau faktor ketuaan, tetapi analisa saya berbeda, bahwa empu kita yang selalu 'ngolah roso' adalah seniman adhiluhung, tampaknya mereka telah melengkapi estetika senirupa dengan memperhatikan elemen tekstur melalui teknik tertentu (kamalan) untuk mencapai karya yang prima sehingga dapat menampilkan nuansa ekspresi.
Beberapa teknik kamalan, terutama ramuan-ramuannya sedang dalam penelitian saya. Mudah-mudahan akan dapat ternotasi teknologi empu masa lalu yang sangat rahasia (sinengker), terutama berbagai cara atau teknik untuk mencapai sebuah karya adiluhung yang pernah dilalui oleh para empu keris jaman dahulu.
Beberapa keris sepuh berpamor miring yang tidak ’nyekrak’ memang sering ditemukan. Namun kesimpulan saya adalah keris seperti itu memang sengaja dibuat tidak melalui teknik kamalan (dikamal) karena ada beberapa pertimbangan, antara lain pertimbangan terhadap pilihan jenis dhapur. Ada beberapa point yang harus dipertahankan sebagai muatan nilai estetikanya dan atau karena keinginan penonjolan estetika pada point lain. Sebagai contoh, keris dengan jenis dhapur yang memakai kembang kacang, biasanya menghindari teknik ’kamalan’, karena akan merusak kembang kacangnya. Sementara keris dengan dhapur gandhik polos (tanpa sekar kacang seperti dhapur brojol) yang berpamor miring, biasanya akan bermain dengan aksentuasi teknik kamal agar berpamor ’nyekrak’.
Contoh yang saya analisa adalah keris karya Borjoguno I jaman Kartasura terbukti telah melakukan teknik kamalan. Reka ulang pembuatannya telah dilakukan dalam praktikum beberapa seniman keris Kamardikan termasuk telah saya lakukan pula eksperimentasi teknik tersebut. Hasil dari teknik kamal tersebut sangat dapat diidentikkan dengan beberapa keris Madura madya karya empu Koso yang awalnya masih dugaan menggunakan teknik kamalan. Pada 2 kelompok foto tampak sekali bahwa bilah baja (slorok) keris Brojoguno I tidak hancur oleh korosi, karena teknik masking dan kamalan menggunakan ramuan tertentu (hasil penelitian dan praktikum). Maka bisa dibandingkan dengan foto keris berpamor blarak (keris temuan sungai Brantas) yang ditemukan dalam keadaan korosi. Pamor keris blarak itu tampaknya tidak melalui teknik kamalan karena pertimbangan dhapurnya (Sabuk Inten) yang dilengkapi kembang kacang. Walau pun pamor keris tua itu nyekrak setelah dimakan usia, namun pada bilah baja (slorok) juga terkena korosi parah, sehingga kesimpulan saya estetika keris ini tampaknya tidak pada penonjolan pamor ’nyekrak’ dengan teknik kamalan.
Keris Brojoguno I diduga telah melakukan teknik kamalan.
Foto keris 'nyekrak' karena korosi ketuaan, tampak baja (sloroknya) juga rusak.
Seni tekstur tampaknya akan berkembang menjadi faktor estetika yang disukai dan digumuli oleh seniman keris pada jaman keris Kamardikan sebagai nilai tersendiri, tanpa mengabaikan nilai budaya keris sepuh. Kajian terhadap estetika keris sepuh sudah saatnya dilakukan untuk menambahkan pengetahuan ”Kawruh Paduwungan”; dalam pem'bahasa'an ilmiah seperti halnya literatur modern. Nilai tradisi atau nilai budaya yang menjadi kebanggaan seharusnya diterjemahkan secara terbuka dan modern agar mendukung apa yang telah di-agul-agulkan sebagai istilah mahakarya, seperti telah terbukti bahwa seniman atau empu sepuh kita telah bekerja memenuhi elemen-elemen senirupa modern dalam karyanya lebih dahulu atau lebih tua dari trend de-stijl keseni-rupaan Barat yang baru berkembang abad 19.
Salam,
TJ.
- |
|
| |
Category : Estetika Keris
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 2 Next |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |