|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 25 Apr 2011 08:15:33 am |
KANJENG KYAHI NOGO MANUK GAJAHELAR |
|
|
Keris Kanjeng Kyahi Nogo Manuk Gajahelar
Ragam hias tradisionil memiliki makna yang dalam, ragam hias tersebut menjadi simbol yang sanggup menembus jaman, serta menembus modernitas. Makna di balik sebuah simbol dari kraton Cirebon sangat terkenal dengan ragam hias Peksi Naga Liman.
Ragam hias Peksi Naga Liman sering terbaca dalam seni ukir kereta istana, dan terutama motif batik kuno yang hingga sekarang masih diciptakan dan berkembang dalam kreasi baru. Simbol itu merupakan sebuah cerminan dari adanya perpaduan antar tiga agama. Peksi dianggap sebagai representasi dari kendaraan Nabi Muhammad saat isra’mi’raj, Bouraq, kemudian naga adalah perlambang dari kebudayaan Budhisme. Sedangkan, Liman yang diartikan gajah, merupakan corak yang berasal dari agama Hindu.
Namun pada jaman yang lebih tua (Hindu), pujangga Khadiri (Kediri sekitar abad 9-10), menggambarkan simbol yang disebut Nogo Manuk Gajahelar, memiliki makna sebuah keseimbangan yang tergelar pada jagat raya ini dengan simbol hewan udara (diwakili wujud manuk), hewan laut (diwakili wujud naga), dan simbol hewan darat (diwakili wujud gajah).
Keris dengan simbol Nogo Manuk Gajahelar, merupakan harapan akan tercapainya sebuah niat atau kemauan yang besar dengan segala daya upaya untuk menyeimbangkan dunia. Menciptakan kemakmuran dan ”rahayu ing rat” (ketentraman atau perdamaian dunia) dalam ruang lingkup negara hingga dunia. Sumpah Raja pada jaman kuno Khadiri selalu diupacarai dengan pemaknaan falsafah ”rahayu ing rat” tersebut, sebagai tanggung jawab yang dipanggul oleh pucuk kekuasaan dan pimpinan tertinggi (raja).
Pada jaman Mataram istilah Manuk menjadi kata Peksi, sedangkan Gajah menjadi kata Liman dan falsafah tentang keseimbangan dunia dituliskan lagi oleh para pujangga jaman Mataram - Paku Buwana dengan falsafah yang kita kenal hingga sekarang ”Memayu Hayuning Bawana”. Di jaman keemasan Paku Buwana IX dan ke X terjadi banyak notasi sebagai kejayaan epigramatik (banyaknya tulisan dari pujangga) yang terulang setelah pada jaman kuno Kediri terkenal nama-nama empu Kanwa, Baradah dlsb...
Keris Kanjeng Kyahi Nogo Manuk Gajahelar, memiliki dasar pikiran sebagai sebuah monumen yang mengingatkan manusia senantiasa harus bertakwa, menjaga jalinan keseimbangan antara manusia dengan Tuhannya, menjaga jalinan kesimbangan manusia dengan Alam Semesta, serta menjaga jalinan manusia dengan sesama manusia yang di Bali dalam lingkup Hindu adat disebut Tri Hita Karana.
Keris dengan nama atau gelar Kanjeng Kyahi Nogo Manuk Gajahelar memiliki prototype tangguh Kediri karena penyertaan sebutan yang ada pada jaman itu, jika keris seperti ini bergaya tangguh setelah jaman Majapahit maka akan lazim disebut Peksi Nogo Liman, seperti yang sering dijumpai pada peninggalan di keraton Cirebon.
Salam TJ. |
|
| |
Category : Kajian
| Posted By : administrator |
|
|
| 17 Apr 2011 08:00:30 am |
SELAMAT BERKONGRES SNKI |
|
|
Tinggal Hitungan Jari - SNKI akan melaksanakan Kongresnya yang pertama, artinya kota Surakarta (Solo) telah mencatat sejarah seperti halnya pernah pertama kali PON di Solo dan banyak lagi catatan sejarah kota Solo.
Sangat pantas bahwa kota ini mengangkat ikon Keris sebagai lambang kota yang berbasis budaya dari sumbernya yaitu Keraton. Para peserta Kongres terutama mereka stakeholder perkerisan pasti akan sangat mewarnai KOTA SOLO, dan tentu juga pak walikota Joko Wi akan mendapatkan sebuah momentum yang jika digarap secara apik akan menjadikan megahnya citra kota Surakarta (Solo). Apalagi jika nanti pengurus yang terpilih dalam Kongres SNKI, bisa membuat sebuah program yang mengangkat NILAI EKONOMI dengan message nilai-nilai Budaya.
Sudah beberapa kali saya merintis peningkatan minat dan pasar (NILAI EKONOMI berbasis BUDAYA) dengan proklamasi keris Kamardikan, tentu akan lebih terwujud jika SNKI nanti ada jalinan yang baik dengan Pemerintah. Juga hubungan luar negeri yang harus tergarap untuk membuka pasarnya. Jika pameran gencar di seluruh dunia, tentu Keris akan duduk sebagai sebuah komoditi seni yang mahal. Juga Keris sebagai ikon Indonesia akan berkaitan dengan pariwisata yang sangat lekat dengan nilai budayanya. Wajar jika museum-museum di Bali pun mulai memajang keris, dari yang sepuh dan Kamardikan.
Bagi yang tidak berpaguyuban juga banyak kelompok kecil yang berpotensi, yang bakal meruap muncul dengan gaya profesional. Kita akan mengalami masa keemasan keris seperti jaman Sultan Agung, nanti dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk peserta Kongres : SELAMAT 'BERKEMAS' MENUJU SURAKARTA; 'berkemas'lah juga dengan konsep dan idea yang matang dan progresif untuk memajukan perkerisan.
SALAM BUDAYA. |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
|
| 11 Apr 2011 06:31:22 am |
Kanjeng NYAI Sri Tanjung |
|
|
KK. Sri Tanjung tangguh Kediri dan KN Sri Tanjung tangguh Kamardikan
Keris dengan muatan Epigramatik telah dimunculkan kembali dalam ciptaan tangguh KAMARDIKAN. Mewarnai KONGRES NASIONAL I SNKI. Dijadikan cover buku ”Keris, Mahakarya Nusantara”.
Sebelumnya banyak keris yang sengaja untuk mengutarakan tema, dan menjadi media seni seperti memuat dongeng, kisah yang kemudian melegenda serta tulisan kakawin, seperti keris Kanjeng Kyahi Arjuna Wiwaha (tangguh Kediri) yang dihiasi relief tentang Arjuna yang digoda oleh bidadari cantik dalam pertapaannya.
Jika pada jaman Kediri pernah dibuat keris Kanjeng Kyahi Sri Tanjung koleksi KRAT. Ali Rahmatdiningrat, kemudian yang sekarang karya Toni Junus menamakannya dengan Kanjeng NYAI Sri Tanjung.
Kisah Sri Tanjung telah populer di dunia sastra kuno, memuat sebuah pesan tentang kejujuran, tekad, kesetiaan dan niat suci. Pesan dari ikon keris Kanjeng Nyai Sri Tanjung perlu dihayati sebagai falsafah dengan nilai-nilai yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan, agar pembangunan dan perjalanan bangsa Indonesia tidak meninggalkan jati diri, Indonesia harus berbangga sebagai bangsa yang memiliki banyak sekali warisan budaya yang bermuatan falsafah, pekerti dan budi luhur.
Sekelumit tentang kisah Sri Tanjung saya beberkan agar dapat dimengerti sebagai inspirasi.
SRI TANJUNG
Cihnane luwih, yan suganda nelikup, Hyang kala wus prapta....
Secuil doa, yang sempat dilantunkan oleh Sri Tanjung kepada dewata. Dalam duduk simpuhnya, perempuan jelita itu menyadari hidupnya tak akan lama. Saat doa ditutup, Sida Paksa, pria yang baru menikahinya, menghunjamkan keris dengan kemarahan membabi-buta. Gending selonding pun riuh rentak.
Tubuh Sri Tanjung terkulai. Perlahan sukmanya menghadap ke kahyangan. Tapi pintu tertutup rapat, mungkin saat kematiannya belumlah tiba.
Dalam keremangan, muncul Betari Durga, penguasa kematian.
Sosoknya membara, pertanda dia hendak mengembalikan kesucian yang telah terenggut. Dengan tirai transparan membalut tubuh Sri Tanjung, Durga meruwat perempuan itu, dan Sri Tanjung kembali hidup.
Kisah asmara segitiga antara Sida Paksa (Mahapatih), Sri Tanjung dan Prabu Sulakrama (sang Raja) dalam sastra kuno yang masih berkumandang. Sida Paksa dan Sri Tanjung merupakan dua sejoli yang tengah mabuk kepayang. Ketika Sida Paksa menikahi dan memboyong Sri Tanjung ke kerajaan, muncul petaka. Prabu Sulakrama, sang penguasa, kepincut pada kemolekan Sri Tanjung.
Untuk memisahkan Sida Paksa dari Sri Tanjung, sang Raja mengutus Sida Paksa keluar memburu pengacau di belantara.
Saat Sida Paksa berangkat kesana, Prabu Sulakrama merayu Sri Tanjung. Namun Sri Tanjung yang setia kepada Sida Paksa, menolak rayuan sang Raja. Nafsu berahi meruap, Sulakrama memerkosa Sri Tanjung. Sang Raja lalu memutarbalikkan kejadian ini. Kepada Sida Paksa yang telah kembali dengan selamat, dia justru menuduh Sri Tanjung merayu dirinya. Sida Paksa lebih percaya kepada sang penguasa ketimbang kepada belahan jiwanya. Tragedi pun terjadi. Sri Tanjung dibunuh oleh Sida Paksa atas keyakinannya bahwa ia telah bersalah mengotori kerajaan. Namun ditengah Sri Tanjung terkulai, darahnya justru menebar semerbak wewangian. (digubah dari artikel Sita P. Aquadini).
-tj |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |