|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 22 May 2010 07:42:12 am |
INTANGIBLE KERIS KARNO TINANDING |
|
|
KARNO TANDING (Karno Tinanding)
adalah suatu babak pertempuran terbesar Baratayudo di Padang Kurusetra. Pertempuran dua senopati pilih tanding yaitu Arjuno dari kesatrian Madukoro sebagai panglima perang Negara Amarta melawan Adipati Basukarno dari Awonggo sebagai panglima perang Negara Astina.
ARJUNO.....
Arjuno atau janoko lahir dari rahim seorang Ibu bernama Kunti Nalibronto dengan Raja Astina Pandu Dewonoto. Satria panengah Pandawa.
BASUKARNO.....
Basukarno atau karno lahir dari seorang rahim seorang Ibu bernama Kunti Nalibronto dengan seorang Dewa bernama Bethoro Suryo atau Dewa Matahari. Jauh sebelum Kunti Nalibronto belum bersuami pernah bermain main dengan aji pameling (sebuah kesaktian yang mampu mendatangkan siapapun yang dikehendaki). Sehingga datanglah Bethoro Suryo. Melihat kemolekan tubuh Kunti, Bethoro Suryo jatuh hati sehingga Kunti mengandung seorang bayi yang kemudian dilahirkan melewati telinga sehingga anak tersebut diberi nama "KARNO" yang berarti telinga. Sebagai seorang putri raja besar Kunti malu karena melahirkan seorang anak sedangkan dia belum bersuami, maka anak tersebut di larung di sungai gangga. Kelak bayi ini diketemukan dan dipelihara oleh seorang kusir kerajaan bernama Adiroto.
Karno besar menjadi satrio tangguh, pintar memanah muncul pada waktu Pendadaran Siswa Sukolimo. Sepintar Arjuno dalam memanah tapi tidak bisa ikut berlatih di Padepokan Sukolimo (Padepokan Resi Durno) karena bukan keturunan bangsawan. Karno di usir dari ajang Pendadaran Siswa Sukolimo karena bukan darah bangsawan. "Kamu Hanya Anak Seorang Kusir" kata Arjuno. Karno menjadi malu dan rendah diri sehingga pergi. Sebagai Satu-satunya Satria yang mampu menandingi kecepatan panah Arjuno, Karno dicari oleh Prabu Duryudono Raja Astina dan mengangkatnya sebagai Adipati di Awonggo. Sebuah Kadipaten di bawah kekuasaan Astina, sehingga Karno bisa berlatih di Padepokan Sukolimo.
............................
KARNO TANDING adalah Sebuah Pertempuran Dua Saudara Kandung Se Ibu tapi berlainan Ayah. Sama-sama Sakti, sama-sama pintar dalam memanah. Sama-sama mempunyai senjata Sakti dari Dewa. Kunti Nalibronto hanya bisa meneteskan air mata melihat kedua putranya saling bertempur. Sebelum pertempuran Baratayuda dimulai kedua ksatria ini pernah dipertemukan oleh Ibunya. Seorang Ibu yang lembut dan bijaksana ini rela bersimpuh di kaki Karno meminta ampun atas penderitaan karno karena telah dibuangnya dan memohon untuk bergabung dengan saudaranya di Pandawa atau Amarta. Karena Kunti tahu benar kalau pertempuran Baratayuda benar terjadi maka hanya Karnolah yang mampu menghadapi Arjuno, itu berarti kedua putranya akan saling berhadapan. Dengan arifnya pula Karno memohon maaf tidak bisa bergabung dengan Pandawa karena beberapa alasan :
"Ibu, ....... sama sekali saya tidak dendam atas perlakuan Ibu kepadaku, hanyutnya aku di sungai gangga sampai aku besar sekarang ini adalah garis hidupku. Aku menjadi Adipati dan hidup bahagia adalah karena Prabu Duryudono, aku tidak mau disebut Satria Pengecut hanya muncul ketika ada kesenangan tapi lari dari kesusahan. Apa kata dewa kalau aku nanti bergabung dengan Pandawa. Suatu saat seandainya aku harus bertempur dengan adikku Arjuno itu juga sudah kehendak para dewa. Sekali lagi saya mohon maaf ibu, Nyuwun Agunging Wiloso. Biarkan aku menentukan hidupku Sendiri. " ......Kata Basukarno.
Arjuno juga hanya bisa tertunduk menangis. Walau bagaimanapun Karno adalah kakaknya meskipun lain ayah, rasa menyesal yang mendalam telah mengusir dari pendadaran siswa sukolimo.
Tangis Kunti semakin menjadi mendengar Jawaban Karno apalagi melihat kedua putranya itu saling berpelukan. Ketiganya larut dalam tangis kebahagiaan, kesedihan, keharuan, kebingungan hanya bisa berpelukan satu sama lain.
................................
Dikutip dari Face Book dinding MM. Hidayat.
- |
|
| |
Category : Budaya
| Posted By : administrator |
|
|
| 09 May 2010 08:36:24 am |
Kerismania: Masa Depan Budaya Keris |
|
|
Keris K.K. Siloponco oleh empu Toni Junus, bahan dari Nantan Meteorite (Guang Ji - China 1561). Pandenya Haji Ahmad, Sumenep. Dilaras oleh M. Jamil.
Kerismania: Masa Depan Budaya Keris
Oleh : A. Ardiasto, SH (Alm).
Melihat antusiasme anak-anak sekolah dasar di Jepang membuat pisau sebagai bagian dari pendidikan ekstrakurikuler dan menengok pandai besi di Malaysia yang terus berproduksi dengan disubsidi oleh negara, membuahkan satu pertanyaan yang perlu kita renungkan, akankah budaya keris di Indonesia mampu bertahan dan terus ‘membudaya’ kelak di kemudian hari? Akankah garda depan pelestarian keris masih mempunyai nafas panjang dalam mempertahankan dan memajukan budaya adiluhung ini?
Tradisi Katana di Jepang, Keris di Melayu, atau Jambiya di Semenanjung Arabia hingga saat ini terus mengakar kuat karena sistem budaya yang kuat. Pedang Katana bagi orang Jepang, tidak terlepas dari semangat Bushido yang hidup abadi dalam diri setiap orang Jepang. Begitu pula keris bagi orang Melayu, ‘Keris Lounge’ di bandara Changi Singapura dan ‘pin’ keris yang dipakai oleh pramugari Singapore Airlines menandakan kebanggaan yang kuat atas budaya keris bagi orang Melayu. Jauh di semenanjung Arabia hingga ke arah timur laut Khaibar, lelaki remaja hingga dewasa tak pernah meninggalkan Jambiya yang bagaikan ‘istri’ kedua bagi mereka.
Sama-sama berwujud ‘senjata’ atau alat membela diri, namun ada nilai lebih dari benda-benda tersebut, bahwa melihat ketiga contoh diatas, Katana, Keris, dan Jambiya, ketiga benda tersebut sudah menjadi gaya hidup bagi kebudayaan yang mereka miliki. Menjadikan keris sebagai gaya hidup merupakan tantangan kita di masa kini untuk menjawab pertanyaan, apakah budaya keris masih tetap dapat dipertahankan di masa depan? Atau tinggal menjadi konsumsi kalangan ‘tertentu’ dan sekelompok kecil pecinta keris saja?
Perspektif Pasca-Kolonial
Indonesia begitu kaya akan etnis, suku, dan sub-suku yang masing-masing memiliki kebudayaan masing-masing. Sebagai negara baru yang baru berumur 65 tahun, ‘Indonesia’ belum memiliki identitas budaya nasional yang baku. Identitas budaya nasional Indonesia, adalah keragaman budaya itu sendiri. Keragaman dari puluhan etnis dan ratusan suku bangsa yang hidup dan mendiami kepulauan Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu.
Masuknya kolonialisme Eropa di abad XVI hingga berakhir di pertengahan abad XX turut mempengaruhi pembentukan kebudayaan nasional. Eropanisasi menginfiltrasi kebudayaan dari atas ke bawah (top-down). Lihat saja pakaian yang dikenakan Raja-raja di Nusantara, kental sekali ‘aroma’ Eropa nya. Nampaknya hal ini menjadi faktor yang turut mengeser budaya ‘origin’ nusantara, walaupun dalam teorinya bahwa kebudayaan itu akan terus bergerak dan berkembang.
Menjadikan keris sebagai identitas nasional, akan menghadapi kendala karena politik ‘devide et impera’ yang terus ditiupkan oleh kolonialisme Eropa. Pertanyaan mereka, menjadikan keris sebagai identitas budaya nasional apakah cukup mewakili beragam kebudayaan yang ada di nusantara? Bagaimana dengan etnis atau suku yang tidak memiliki budaya keris? Dalam perspektif mereka, infiltrasi budaya Eropa adalah jawaban dari keraguan dan kebingungan dalam pembentukan identitas budaya nasional.
Perspektif Neo-Liberal
Keris adalah benda budaya yang eksotik, origin, dan ‘nampaknya’ laku di jual ke pasar seni. Rezim kapitalisme neo-liberal menangkap peluang ini sebagai komoditas pasar yang cukup menarik. Eksotisme oriental khas asiatik dengan perspektif ‘keprimitifan’ ala barat, seakan-akan menjadi pembenar bahwa keris adalah obyek yang layak untuk dieksploitasi secara ekonomis.
Negara-negara utara khususnya selalu haus akan karya seni oriental. Museum dan Art Shop di beberapa negara Eropa, menyediakan ruang khusus untuk karya seni dari Asia, dalam bentuk ‘Oriental Space’. Karya seni kontemporer maupun klasik laku keras di pasaran Eropa, termasuk diantaranya karya klasik keris. Pengamatan empirik penulis dalam 5 tahun terakhir ini, khususnya di Yogyakarta, setiap tahunnya tidak kurang dari 5-10 ribu bilah keris berbagai jenis dan kualitas yang ‘melayang’ ke pasar luar negeri.
Pedagang-pedagang keris dari Belanda, Jerman, Australia, dan Malaysia terus memburu keris dari Indonesia. Disamping alasan ‘murahnya’ harga karya seni keris dari Indonesia, alasan lemahnya ‘nasionalisme’ orang Indonesia menjadi dorongan bagi para pemburu keris luar negeri. Mereka beranggapan bahwa orang Indonesia sudah tidak membutuhkan identitas kebangsaan, lemahnya perekonomian nasional dan susahnya lapangan pekerjaan menjadi alasan bahwa negara tidak mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat, sehingga nasionalisme pun tergadaikan.
Perspektif Etnisitas
Dari sekian banyak kebudayaan yang mendiami kepulauan Nusantara atau khususnya negara Indonesia, keris lah yang hampir didapati ada pada kurang lebih 60% kelompok etnis dan suku di nusantara. Walaupun tidak selalu keris, paling tidak tehnik tempa lipat dan seni rupa pamor dipakai oleh pandai besi di nusantara untuk membuat senjata. Bahkan cara perawatan senjata-senjata tersebut kurang lebih sama dengan perawatan keris.
Keris menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai ‘Pencitraan Nusantara’. Keris adalah ‘karya seni’ sekaligus ‘benda budaya’ asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Rasa kebangsaan memerlukan simbol, bukan hanya dalam pengertian simbol yang bersifat abstrak melainkan simbol nyata yang dapat mewakili hampir dari seluruh suku bangsa yang ada di Nusantara.
Kerislah yang nampaknya dapat diangkat sebagai simbol persatuan Nusantara. Bukti sejarah menunjukkan pengaruh budaya keris dalam tehnik tempa logam yang digunakan oleh suku-suku bangsa yang mendiami kepulauan nusantara. Budaya keris menyebar sejalan dengan perdagangan dan hubungan diplomatik diantara kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Keris dan Studi Oriental
Budaya Keris menjadi kajian studi yang menarik bagi orang barat. Puluhan buku tentang keris yang dikeluarkan oleh sarjana barat menjadi bukti bahwa keris adalah obyek studi oriental yang menarik. Lewat kajian studi oriental inilah bangsa-bangsa di Utara memahami dengan baik karakter bangsa-bangsa Asia khususnya Nusantara kita. Keris menjadi dasar pijakan bagi riset-riset sosial yang mereka kembangkan.
Lewat keris, ilmuwan barat mengkaji sejarah nusantara dengan baik, dengan metode penelitian kualitatif yang mendalam. Dampaknya adalah bahwa mereka mempunyai ‘petunjuk’, data base, dan ‘peta’ sosiologis masyarakat Nusantara. Data inilah yang mereka gunakan sebagai acuan bagi proyek-proyek selanjutnya baik yang berperspektif ekonomis maupun sosial.
Asia khususnya Nusantara, merupakan sumber inspirasi riset sosial yang tidak pernah ‘kering’ dimata ilmuwan barat. Kekayaan seni dan budaya nusantara mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi ilmuwan barat. Begitu pula dengan peradaban masa lalu nusantara. Proyek-proyek penelitian yang berusaha ‘menguak’ masa lalu, nantinya akan mereka gunakan sebagai bahan untuk ‘merajut’ masa depan nusantara, yang ada dalam genggaman mereka.
Kejumudan Modernitas
Moderenitas yang diwakili oleh kemajuan teknologi, membuat orang ‘mapan’ merasa jenuh dan bosan. Kehidupan yang serba ‘nyaman’ dan ‘otomatis’ membuat mereka rindu akan masa lalu. Romantisme sejarah, dimana kehidupan berjalan secara alamiah dan teratur mengikuti kehendak alam ingin mereka hadirkan ke alam yang serba moderen ini. Makanan Organik, Rumah Joglo, dan Hobi Keris menjadi bukti bahwa masyarakat moderen jenuh dengan hal-hal yang serba instan.
Perpindahan masa lalu ke era moderen ini dapat kita lihat antara lain dalam seni arsitektur. Saat ini orang moderen lebih memilih rumah-rumah adat semisal ‘joglo’ atau ‘limasan’ Jawa ketimbang rumah tembok biasa. Selain lebih artistik, alasan ‘rindu’ masa lalu menjadi dasar pembenar utama. Hasilnya, desa pindah ke kota dan ‘kota’ pindah ke desa. Saat ini lebih gampang menemui rumah joglo di perkotaan ketimbang rumah joglo di pedesaan. Dan sekali lagi pasar luar negeri ‘melirik’ hal ini sebagai peluang pasar yang potensial. Rumah joglo menjadi komoditas barang antik yang sangat laku di pasar Eropa.
Dalam dunia hobi, rasa ‘rindu’ atas masa lalu ini mulai menjangkiti para penghobis. Dan salah satu pilihan mereka adalah jatuh pada dunia koleksi keris. Keris dianggap benda yang dapat mewakili masa lalu, jauh menembus kehidupan alamiah yang saat ini tergerus oleh modernitas. Keris dapat mengobati kerinduan akan kebesaran masa lalu, sebuah romantisme yang kadang-kadang menjadi ‘bumbu’ dalam diskusi-diskusi perkerisan. Orang akan tetap mengagumi keris yang dianggap lahir pada era Kerajaan Shingasari atau Majapahit sembari membayangkan kehidupan masyarakat Shingasari atau Majapahit di masa lampau.
Keris dan Kaum Muda
Minat kaum muda terhadap keris, saat ini mengalami peningkatan yang cukup pesat. 10 tahun yang lalu, para penghobi keris masih didominasi oleh mereka yang berumur diantara 40-70 tahun atau mereka yang telah mapan secara ekonomi. Untuk saat ini, fakta diatas tergeser oleh semangat kaum muda dalam menyemarakkan dunia perkerisan. Hal ini harus segera direspon positif, sebab kaum muda adalah pewaris dan garda depan pelestarian budaya keris.
Tantangan pelestarian keris yang diwakili oleh kaum muda antara lain anggapan bahwa koleksi keris adalah koleksinya ‘kaum mapan’, atau setidaknya orang yang tidak memiliki masalah dalam hal ekonomis. Ketertarikan mereka terbatasi oleh mahalnya harga keris. Sehingga pada akhirnya muncul rasa ‘minder’ dan pupusnya harapan untuk memiliki keris. Hal-hal seperti ini nampaknya perlu diantisipasi dengan jalan menyemarakkan dan mempromosikan keris baru sebagai karya seni yang cukup membanggakan. Keris akan menjadi mahal bila jumlahnya menjadi semakin terbatas, dan inilah yang menimpa keris-keris tua bermutu yang kita miliki, dan sebagian besar sudah ‘lari’ ke luar negeri.
Cara lain menarik minat kaum muda dalam pelestarian keris dan nampaknya cukup efektif adalah dengan jalan ‘menguri-uri’ pusaka warisan leluhur. Kita tahu bahwa budaya ‘pusaka’ adalah budaya suku bangsa nusantara. Hingga saat ini masih banyak keluarga yang memegang tradisi ini. Celakanya adalah apabila keris pusaka yang mereka miliki jatuh ketangan orang lain, entah lewat perdagangan maupun lewat cara lain. Kaum muda yang mewarisi pusaka leluhur dapat diorganisir lewat paguyuban atau perkumpulan keris yang saat ini marak bermunculan. Memunculkan rasa bangga atas keris pusaka warisan leluhur
Masa depan pelestarian keris berada di pundak kaum muda. Anggapan bahwa masa depan pelestarian keris hanya dilakukan oleh ‘kaum mapan’ agaknya perlu dianulir. Tumbuhnya rasa kebangsaan dalam balutan idealisme nasional bisa diusung oleh ketertarikan kaum muda dalam pelestarian keris. Kaum muda cenderung terbuka pada perubahan dan dinamika wacana. Kaum muda cenderung menghindari feodalisme, yang kadang-kadang muncul dalam paguyuban atau perkumpulan penggemar keris. Sebagai pusaka sekaligus benda seni, kaum muda lebih rasional dalam memaknai sebilah keris.
Keris menjadi inspirasi dan kebanggaan kaum muda namun bukan berfungsi sebagai benda ilusionis belaka. Kaum muda cenderung memaknai keris lebih luas dan tidak larut dalam romantisme sejarah yang mengilusi. Cerita-cerita romantisme sejarah hanya menjadi bumbu dan penyemangat dalam perubahan yang lebih besar, rasa perlawanan terhadap kooptasi dan dominasi asing atas tanah leluhur kita agaknya menjadi perhatian yang lebih menarik ketimbang mengangan-angankan masa lalu. Semangat keris pusaka yang mereka warisi dari leluhur menjadi modal bagi perwujudan idealisme dan semangat kebangsaan kaum muda, dan masa depan keris pun berada di tangan kaum muda.
Penulis aktif Ardiasto Sh, telah tiada meninggal pada tanggal 7 Mei 2010. Selamat jalan sobat baikku (TJ). |
|
| |
Category : Kajian
| Posted By : administrator |
|
|
| 02 May 2010 09:06:02 pm |
JAZZ ETNIK I WAYAN BALAWAN DALAM TEATRIKAL TARI KERIS |
|
|
Balawan akan tampil dalam KERIS FOR THE WORLD di
Galeri Nasional Indonesia 3 Juni acara pembukaan; Ia sedang show di Jogya saat Preskonfren KFTW di Galnas Rabu tanggal 26 April lalu. Balawan akan tampil dengan 2 penari, menghentakkan musik jazz etnik. Ini memang merupakan tugas yang diberikan oleh ketua panitia untuk mencipta suatu suasana baru..... dari sebuah perhelatan pameran keris internasional..."Ini merupakan apresiasi kami sebagai musisi terhadap seni budaya keris yang merupakan warisan nenek moyang untuk kita jaga dan lestarikan," ujarnya kepada Kapanlagi.com. <http://www.kapanlagi.com/h/balawan-hadir-dalam-keris.html
Balawan Hadir Dalam Keris
Kapanlagi.com - Sebagai warisan budaya bernilai sejarah tinggi, keris telah diakui dunia internasional sebagai budaya asli Indonesia lewat penghargaan yang diberikan oleh Unesco, salah satu badan PBB yang berkompeten dalam hal pendidikan dan kebudayaan dunia.
Dan untuk pengukuhan akan dihelat acara Keris For The World pada 3 – 8 Juni 2010 di Museum Galeri Nasional Jakarta. Acara yang akan dibuka Menbudpar Jero Wacik ini akan diselenggarakan pameran, awarding, pelucuran buku Keris For The World 2010, dan musik etnik Balawan.
Sebagai musisi yang menjunjung tinggi nilai budaya, Balawan akan menyampaikan pesan budaya keris lewat sebuah instrumen lagu etnic.
Balawan yang tidak bisa hadir dalam preskon yang digelar di Museum Galeri Nasional, (27/4), saat dihubungi melalui ponsel, menyatakan sangat tersanjung dapat berpartisipasi dalam acara tersebut.
"Ini merupakan apresiasi kami sebagai musisi terhadap seni budaya keris yang merupakan warisan nenek moyang untuk kita jaga dan lestarikan," ujarnya.
Dalam penampilannya nanti, musisi bernama lengkap I Wayan Balawan itu akan menyuguhkan teknik bermain gitar tapping techique atau touch technique dengan menggunakan 8 jari yang menyerupai piano. (disadur dari Kapanlagi.com) |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |