|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 23 Nov 2009 03:12:08 pm |
Meteor untuk empu Keris di Bali...Bangkit!!! |
|
|
Denpasar, 21 Nopember 2009.
Pande Made Gd Suardika - Generasi penerus trah Pande
Seorang Pande Made Gd Suardika yang telah melanglang buana bekerja di luar negeri yang beristrikan Kyoko Nomura wanita Jepang, memutar balik profesinya atas panggilan hati mulai mengabdikan diri menggarap keris melanjutkan trahnya yaitu trah pande. Kesadaran sebagai generasi penerus adalah adanya pengabdian kepada adat, agama dan budaya Bali. Keris-keris karyanya telah disimpan dibanyak puri seperti Puri Agung Kesiman, Griya Jero Gede Sanur, Puri Gede Karangasem dan juga mendapat dukungan masyarakat warga Pande Ton Je, Angga Brahmana Sanur. Dorongan yang sangat berarti diberikan oleh Drs. AA. Ngurah Puspayoga MBA (Wakil Gubernur Bali) dan IB. Ray Mantra (Walikota Denpasar), penglingsir Puri Gede Karangasem AA. Bagus Ngurah Agung SH.MM. dengan ikut mengkoleksinya.
Majalah semi jurnal tosanaji PAMOR menganugerahkan sepotong iron meteorite 500 gram di Prapen, Jl. Kenyeri - Denpasar, sebagai tonggak pande Keris Kamardikan di Bali, bangkit! Acara terselenggara atas kerjasama dengan tokoh masyarakat Denpasar, I Nyoman Gd Sudiantara SH., dibantu Rangga Prawangsa (pegiat perkerisan Bali).
Meteor yang telah disanggarkan
I Nyoman Gd Sudiantara SH. (familiar dipanggil Punglek) selaku pribadi sangat mendukung terlaksananya acara ini, sebagai kelahiran baru, semangat baru dari sebuah pengabdian seorang Pande Made kepada Bali tercinta dalam segi adat-budaya, agar Pande Made yang punya kesadaran tanpa pamrih untuk tidak profit-taking, dapat bekerja menghasilkan karya berkualitas unggul dan bertaksu.
Berjabat tangan, ditengah tampak I Nyoman Gd Sudiantara SH.
Dalam orasi singkat, KRT. Toni Junus Kartiko dari PAMOR, mengatakan bahwa iron meteorite yang diserahkan kepada Pande Made Gd Suardika seorang empu keris diharapkan akan menghasilkan beberapa bilah keris unggul yang dapat disimpan, disakralkan dan akan menjadi catatan sejarah dimasa yang akan datang. Selain untuk melestarikan kearifan lokal Bali, kegiatan Pande Made juga diharapkan akan memberi nilai tambah kepada adat-budaya Bali lebih utuh. Perkerisan di Bali akan terus berkembang secara alamiah menuju koridor pakemnya, baik dalam segi ritual, kesakralan adat dan agamanya. (Naskah dikutip dari harian BM). Foto-foto TJ.
- |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
|
| 10 Nov 2009 08:13:27 pm |
Keris berpamor meteor dan apa itu meteor? |
|
|
Bahan pamor dari iron meteorites Australia
Pengantar
Kita sering mendengar bahwa pamor keris dibuat dari bahan meteor. Kemudian kita juga sering mendengar bahwa meteor mengandung titanium (Ti). Kita tidak pernah jelas mulai kapan meteor dipergunakan menjadi bahan pamor. Dan apakah betul meteor mengandung Ti (titanium)? Ada beberapa revisi telah dilakukan dalam sebuah forum diskusi, yang menyatakan mayoritas meteor (irons meteorite) adalah mengandung kristal Fe/Ni (besi dan nikel). Dalam sejarah perkerisan, catatan yang bisa dipertanggung jawabkan adalah ketika meteor jatuh di desa Klurak di daerah Prambanan. Meteor ini sebetulnya tidak tunggal. Ada yang seukuran <1m3 (Kanjeng Kyahi Pamor) dan disertai dengan ratusan kerikil dan bebatuan yang tersebar di sekeliling area kubangan bahkan melintas sekian kilometer dari lokasi utama. Ada diantaranya yang seukuran buah kelapa (dihadiahkan kepada keraton Hamengku Buwana). Sri Susuhunan Paku Buwana X, konon menyimpan banyak sekali meteor sertaan dari pamor Prambanan dan disimpan dalam kantong-kantong kecil untuk dihadiahkan kepada mereka yang berjasa kepada Keraton. Meteor dianggap sebagai jimat yang terbaik dibanding benda-benda yang ada di bumi. Kepercayaan itulah yang menggugah para raja untuk menjadikan meteor sebagai bahan pamor. Sesuai filosofi ”manungaling kawula Gusti”, dimana meteor berasal dari bapa akasa, disatukan dengan besi (pasir besi dari ibu Bumi). Dalam dekade jaman Paku Buwana inilah jelas sekali bahwa meteor telah digunakan sebagai bahan pamor.
Meteor Prambanan jatuh pada pertengahan abad 18 (1749), dimasa pemerintahan Sunan Paku Buwana III, pada waktu itu hanya beberapa kerikil meteor dibuat untuk keris, terutama diserahkan kepada empu Brojoguna. Pada pemerintahan Sunan Paku Buwana IV, meteor Prambanan yang disebut Kanjeng Kyahi Pamor yang sebesar 1m3 itu mulai dipergunakan pula. Namun ini juga tidaklah dijelaskan secara rinci berapa banyak diambil untuk pembuatan keris, mungkin saja Paku Buwana IV hingga selanjutnya Paku Buwana IX dan X menggunakan batu-batu meteor sertaannya, karena pada waktu itu ratusan kerikil hingga meteor sebesar jeruk yang diperkirakan serpihan meteor dari meteor utama, dikumpulkan dari desa tersebut diboyong ke keraton dalam dekade hampir sepanjang tahun, para abdi dan penduduk melakukan pencarian terus menerus di sungai-sungai bahkan hingga mendekati areal Candi Prambanan. Bahkan perdagangan kerikil meteor terus berlanjut. Kepercayaan terhadap jimat meteor juga masih ada hingga kini.
Penggunaan pamor keris dari batuan kerikil meteor asal Prambanan tampaknya cukup masuk akal. Hal ini bisa kita simpulkan jika kita meneliti pada Kanjeng Kyahi Pamor itu, tampaknya tidak banyak bekas pahatannya.
Apa itu Meteor?
Meteorit adalah batu yang jatuh ke bumi dari ruang angkasa. Terdapat tiga jenis dasar: batuan, besi dan batuan besi atau stones, irons dan stony irons, yang masing-masing akan dibahas berikut ini.
Stones meteorite - Irons meteorite - penampang irisan Stony irons meteorite
Tetapi sebelumnya, dari manakah asalnya meteorit?
Mayoritas terbesar berasal meteor dari sabuk asteroida, daerah dengan jutaan serpihan batu yang mengorbit di antara Mars dan Jupiter. Serpihan-serpihan ini tidak berhasil membentuk sebuah planet, sebagaimana yang terjadi pada serpihan-serpihan lain di lingkungan planet lain yang jauh dari Matahari.
Beragam serpihan dari sabuk asteroida tersebut mempunyai orbit yang berbeda dari bentuk lingkaran sampai bentuk yang sangat membujur, selain itu juga mempunyai orbit yang tidak sama pada bidang datarnya. Seiring dengan berjalannya waktu, karena perbedaan orbit tersebut, terjadilah tabrakan serpihan yang mengakibatkan sebagian terlontar dari orbitnya yang semula pada sabuk asteroida dan memasuki orbit “lintasan bumi” yang membawanya ke bumi sebagai meteorit.
Walaupun kebanyakan meteorit berasal dari sabuk asteroida, beberapa dari serpihan itu sekarang diketahui berasal dari Mars dan beberapa dari Bulan kita. Meskipun demikian, asal muasal meteorit yang langka ini juga berhubungan dengan tabrakan antar serpihan yang terjadi di sabuk asteroida. Sama seperti serpihan asteroida masuk ke bumi, beberapa serpihan juga mempengaruhi Mars atau Bulan, bahkan dengan energinya bisa mencabut kepingan batu karang yang ada di Mars ataupun Bulan.
Saat kepingan-kepingan yang tercerabut itu bisa lepas dari areanya, mereka melayang dalam jalur orbit sampai mereka secara tak terduga tiba di bumi. Bagaimana kita tahu bahwa tipe langka ini dari Mars atau dari Bulan? Inti jawabannya adalah bahwa susunan kimia mereka berbeda dari susunan kimia meteorit yang berasal dari asteroida.
Batuan Meteor atau Stones Meteorite
Kebanyakan Batuan Meteor (Stones Meteorite) komposisinya yang terbanyak adalah mineral yang mudah ditemukan di bumi, seperti olivin, piroxin dan feldspar. Ketiganya merupakan silikat, yaitu mineral banyak ditemukan pada lava volkanik di bumi. Berdasarkan tekstur mereka, Stone Meteorite terbagi dalam dua jenis, jenis chondrit dan achondrit.
Dinamakan chondrit karena mereka mengandung “BB-like”, yaitu bidang yang seperti kaca (kristal kaca mirip kwarsa), yang disebut chondrule. Chondrule ini, berupa obyek kecil yang unik, tak pernah ditemukan pada batu karang yang terdapat di bumi, tampaknya telah terbentuk pada awal sekali, sama seperti masa pembentukan ”sistem solar” dengan matahari dan planet-planetnya. Untuk alasan-alasan yang tidak kita ketahui, titik-titik leburan yang terbentuk di dalam “awan debu” itulah yang kemudian akan menjadi ”sistem solar” kita. Meteorit-meteorit chondrit ini sering dipandang sebagai “primitif” karena batuan dari masa lampau ini telah mengorbit di ruang angkasa tanpa berubah, selama 4,5 milyar tahun sebelum sampai di bumi.
Dinamakan achondrit –batuan yang lebih langka lagi – karena mereka tidak mengandung chondrule. Achondrit ini telah mengalami banyak perubahan, berbeda dengan batuan chondrit yang tak berubah dan “primitif” yang disebut di atas. Pada kebanyakan kasus, terjadinya peleburan pada keseluruhan batu pada masa lampau itu menyebabkan chondrule yang ada jadi hilang.
Susunan kimia yang sama masih ada, tapi chondrule “BB-like” telah digantikan oleh tekstur yang mempunyai komposisi seperti mosaik dari kristal yang saling mengunci. Tekstur yang baru ini mirip bebatuan igneous, yang terbentuk di bumi, karena mereka mengkristal dari bentuk cair. Jadi dimana achondrit terbentuk? Jawabannya ada pada asteroida yang besar dan planet-planet. Banyak asteroida tumbuh cukup besar dan mempunyai bahan bakar radioaktif yang memadai, sehingga peleburan terjadi bahkan pada saat mereka belum mencapai ukuran planet.
Asteroida terbesar yang diketahui adalah berdiameter sekitar 600 mil. Sebagai ikhtisarnya, bayangkan sebuah asteroida yang komposisinya terdiri dari chondrule dan “debu primordial” yang tumbuh cukup besar untuk melebur, karenanya membentuk kristal achondrit saat pendinginan. Sebagai tambahan pada asteroida, meteorit-meteorit Mars dan Bulan yang kita kenal, semuanya achondrit karena mereka berasal dari obyek-obyek besar dimana terjadi aktifitas volkanik, sama seperti yang terjadi di bumi.
Logam Meteor atau Irons Meteorite
Logam Meteorit komposisinya kebanyakan dari campuran logam yaitu yang menonjol adalah besi (Fe) dengan sejumlah variasi nikel (Ni) yang larut dalam besi. Campuran dari kedua unsur yang berbeda ini, Fe dan Ni, yang biasanya ditemukan pada besi adalah kamacit (campuran Ni rendah) dan taenit (campuran Ni tinggi). Banyak besi terdiri dari dua jenis campuran ini yang bersama-sama telah mengkristal menyebabkan pola geometris yang dinamakan bilangan Widmanstatten. Mineral berikutnya yang biasa terdapat pada logam adalah troilit, sejenis besi sulfida, yang jarang terdapat di bumi, yang biasanya menjadi tonjolan bila bercampur dengan Fe dan Ni. Menurut SG. Nielsen yang melakukan penelitian bersama M. Rehkamper dan A. Halliday melalui cosmochemists bahwa terjadinya kristal Fe-Ni tersebut karena adanya ikatan radionuclide As, Ti dan Pb. (penelitian pada jenis meteor Toluca dan Canyon Diablo).
Klasifikasi ilmiah dari logam yang terdiri dari beberapa macam jenis merupakan hal yang rumit dan sulit karena hal ini berdasarkan dari jumlah kandungan elemen yang terlacak dan tidak kasat mata. Klasifikasi berdasarkan hal yang tampak, seperti halus, sedang atau kasar, juga digunakan pada kelompok yang dinamakan oktahedrit (dimana kamacit dan taenit ditemukan bersama-sama). Disebut klasifikasi ilmiah karena berasal dari usaha untuk menentukan logam yang berasal dari asteroida yang sama.
Bagaimana terbentuknya meteorit-meteorit dengan komposisi sepenuhnya campuran Fe/Ni?
Untuk memahami hal ini, bayangkan massa karang yang besar di ruang angkasa, yaitu sebuah asteroida, mengalami peleburan menyeluruh. Pada saat ini terjadi, campuran logam berat masuk ke pusat massa, menggantikan obyek-obyek yang lebih ringan yang terangkat ke atas dan mendekati permukaan. Contohnya, pikirkan tentang planet bumi yang mempunyai pusat logam dan sebuah lapisan dan kerak di atasnya. Setelah pemisahan campuran logam berat yang ada di pusatnya dengan zat silikat yang lebih ringan tersebut, terjadilah tabrakan yang menyebabkan hancurnya asteroida dan berserakan menjadi ribuan kepingan. Beberapa dari keping yang terserak itu menjadi campuran Fe/Ni dari pusat sebelumnya dan beberapa lainnya akan menjadi mineral silikat yang semula adalah lapisan di atasnya. Hal ini mengakibatkan banyak serpihan pada sabuk asteroida adalah merupakan campuran logam yang Fe/Ni nya paling dominan.
Batuan Logam Meteor atau Stony Irons Meteorite
Batuan Logam merupakan kombinasi dari zat batu dengan campuran logam. Pada kelompok yang agak besar ini, ada 2 tipe yang cukup berbeda, disebut pallasit dan mesosiderit. Meskipun keduanya merupakan kombinasi batu dan logam, asal muasal keduanya benar-benar berbeda.
Batu bintang dari Kalimantan jenis yang sering dibuat mandau
(koleksi Empu Subandi Suponingrat)
Pertama, kelompok pallasit terdiri dari sebagian besar mineral silikat olivin (disebut permata peridot) yang bercampur dengan campuran Fe/Ni.
Bagaimana pallasit terbentuk?
Seperti pada logam meteorit (iron meteorite), bayangkan peleburan menyeluruh dari sebuah asteroida dengan perpecahan yang biasa terjadi dari logam ke pusatnya. Perpecahan itu pasti tidak sempurna sebelum pendinginan sehingga masih ada mineral silikat, seperti olivin, yang tertinggal di dalam logam tersebut. Ini merupakan material yang kemudian akan menjadi pallasit. Sama seperti pada logam, perpecahan dari asteroida yang tidak sempurna menyebabkan terjadinya serpihan, yaitu pallasit bersamaan dengan unsur-unsur lainnya yang berasal dari pusatnya yaitu logam. Pada faktanya, seringkali meteorit yang sama ditampilkan kembali oleh kepingan-kepingan dari karakter pallasit yang biasa dan oleh besi yang mengandung sangat sedikit olivin bahkan tanpa olivin sama sekali.
Mesosiderit juga merupakan kombinasi dari material berbatu dengan logam campuran. Akan tetapi berbeda dengan pallasit, material batuannya bukanlah olivin tetapi komposisinya terdiri atas beragam jenis bebatuan, dimana bentuk serpihan pecahannya sangat tidak beraturan.
Bagaimana mesosiderit terbentuk?
Sekali lagi bayangkan sebuah asteroida dalam hal ini sebuah logam: perpecahan batu yang terjadi setelah peleburan. Pada waktu kemudian yang agak lama, terjadi goncangan asteroida, menyebabkan terjadinya ribuan serpihan yang mengarungi ruang angkasa seperti koleksi yang lepas, mirip sekali seperti awan serpihan-serpihan. Berangsur-angsur serpihan-serpihan ini menarik satu sama lain karena kekuatan gravitasi, dan menjadi satu kembali, tetapi sekarang sebagai kombinasi yang acak, logam di pusat dan lapisan silikat tidak seperti lapisan yang tertata seperti pada bentuk asteroida yang semula.
Keris berpamor Meteor
Keris yang telah dibuat dari sejak jaman purwacaritra, Mataram Hindu hingga detik ini, sangatlah sulit dilacak apakah benar bahan pamor yang menyertainya dibuat dari bahan meteor. Dibeberapa pihak, mereka yang sangat memahami tangguh Paku Buwana, bisa membedakan jenis pamor dari meteor dan yang bukan. Karena pada tangguh Paku Buwana (PB) pun tidak semua keris berpamor meteor. Tetapi justru kondisi itulah yang menghasilkan pedoman, yaitu dengan memperbandingkan setiap keris tangguh PB. Pengamat dan kolektor yang sangat memahami tangguh PB antara lain adalah Ir. Haryono Haryoguritno, KRA. Sani Gondoadiningrat dan beberapa senior perkerisan seperti Ir. Brotohadi Sumadyo, Supranto dlsb, telah terbiasa menduga (bukan memastikan) mana keris yang berpamor meteor dan yang bukan. Ada beberapa kesimpulan yang perlu diperhatikan dan yang mungkin bisa dijadikan acuan adalah bahwa jika mengamati tangguh PB yang menggunakan meteor pastilah pamornya bernuansa. Ada keabu-abuan dan ada yang jernih (deling). Pamor nikel biasanya mati (tidak bernuansa) atau orang Jawa menyebutnya dengan menteleng (melotot) alias jreng.
Pasopati PB X dan Nom-noman Cirebon koleksi Hengky Joyopurnomo;
KK Katiban (TJ); pamor Nogorangsang PB IX Singowijoyo koleksi KRA. Sani Gondoadiningrat.
Kenapa pamor meteor bernuansa?
Seperti dijelaskan diatas bahwa bahan irons meteorite atau stony irons meteorite bisa digunakan menjadi bahan pamor keris, terutama karena adanya kristal Fe/Ni yang banyak, disertai unsur lain seperti adanya phospor, senyawa Ti, As, Pb sebagai isotop pengikatnya. Ketika dalam prakteknya menjadi pamor keris, unsur-unsur heterogen itu tidak hilang sama sekali sehingga alur pamor meteor akan bernuansa. Pamor ini secara visual ada warna abu-abu dan ada kehitaman serta ada pula bagian yang putih cemerlang, yang jika diamati tampak aura sinar warna-warni. Hal ini menjadi sangat jelas jika keris diminyaki dan dipandang dibawah sinar matahari. Empu Djeno Harumbrojo (alm), menyebutnya dengan kata ”sulak” atau bias pelangi warna.
Namun demikian pada prakteknya, pegiat keris dan seniman keris Kamardikan yang mulai mengolah pamor dari bahan meteor, tetap harus melakukan eksperimentasi terutama pada treatment akhir setelah finishing touch bentuk keris. Karena tampaknya empu jaman dahulu pun melakukan treatment termasuk melalui cara ”quenching” atau sepuh, kamalan (merendam pada air welirang) dan bahkan mutih keris dan mewarangi dengan banyak cara seperti cara di’nyek’, untuk menimbulkan estetika dari bahan meteor yang diharapkan memberi keterpukauan pada detail pamornya, dan bukan hanya pada jenis motifnya. (TJ)
Diolah dari sumber : Meteorite basics, ASU.edu.com |
|
| |
Category : Kajian
| Posted By : administrator |
|
|
| 04 Nov 2009 07:16:35 am |
PAMOR; CABANG SENI YANG AWALNYA TANPA DISENGAJA |
|
|
Nama keris Kanjeng Kyahi Katiban adalah hasil eksperimentasi Toni Junus, 2009
Dhapur Jaka Wuru – Kamardikan Mutrani.
Pamor dari bahan iron meteorite – Australia.
Finishing - Sepuh dengan mantra 'panguripan'.
Koleksi : Branko Windoe.
Keris yang bagus sesuai fungsinya sebagai senjata adalah tidak mudah patah atau bengkok. Ini juga merupakan hasil evolusi-progresif dari Empu dan para pande besi. Mereka melakukan mixing atas berbagai jenis logam, setidaknya besi, baja dan logam lain. Sadar akan kelemahan masing-masing logam, maka dibuat percobaan mencampur berbagai jenis logam untuk menghasilkan senjata yang unggul dari sisi material. Baja yang keras, tajam, namun getas (mudah patah), diapit oleh logam lain yang lentur (seperti lapisan besi lunak dan nikel) untuk menutupi kelemahan baja yang keras dan mudah patah tersebut. Karena susunan berlapis itu keris memiliki keistimewaan lain, lapisan besi lunak dan nikel menimbulkan konfigurasi yang indah dan itulah yang disebut ‘pamor’. Kata ‘pamor’ berasal dari bahasa Jawa ‘amor’ atau ‘diwor’ yang artinya ‘dicampur’ atau ‘disatukan’. (Kutipan : A.Ardiasto).
Awalnya motif pamor tidak beraturan, tidak kontras dan muncul tanpa disengaja. Garis-garis itu merupakan layer baru akibat adanya proses over-reaktif antara dua lapis bahan yang tidak murni yang terkena bara api dan pukulan. Layer itu memiliki lapisan grafis disebut ‘pamor sanak’ dan kemudian menjadi seni tersendiri. Oleh keadaan itu muncul ide dan metode mengatur terjadinya alur lapisan grafis (pamor sanak) dengan cara penambahan nikel atau logam yang lain. Beberapa bahan besi (heterogen) yang digunakan sering pula setelah diwarangi membentuk nuansa samar-samar keputihan tidak berupa alur yang jelas, lebih melebar seperti ‘awan di langit’ disebut pamor “ngapuk” (dari kata ‘kapuk’ = kapas; bhs.Jw).
Catatan-catatan etnografis masa lalu menunjukan bahwa empu keris atau pande besi secara khusus memiliki kedudukan penting dalam masyarakat karena dianggap memiliki kesaktian dan tidak sembarangan atau setiap orang dapat menjadi empu. Oleh karena itu sangat menarik bahwa, seperti disebutkan di dalam kitab Slokantara, pande besi termasuk salah satu golongan masyarakat ‘candala’. Tempat pembuatan benda-benda logam pada abad ke 9 di sebut ‘gusalyan’ dari istilah ‘paryyen’ (jawa kuno) berubah menjadi ‘paron’. Tempat-tempat tersebut dianggap sacral karena memiliki aspek simbolik – religius dimana ‘paron’ (landasan tempa) adalah lambang bumi dan ‘palu’ merupakan jatuhnya bahan besi (meteor) yang ditumbukkan, sebagai lambang terrestrial dan celestial yaitu simbolik dari persatuan “bapa akasa” dan “ibu bumi”. Artinya dalam pengertian ini adalah, bahwa selain fungsi teknomik dan sosioteknik, keris juga dianggap sebagai benda sacral yang dihasilkan dari pemahaman religius tentang ‘manunggaling kawulo gusti’. (kutipan dari makalah Prof. Dr. Timbul Haryono).
Penggunaan logam meteorit itu memang dilakukan secara sengaja terutama ketika proses spiritual yang mengiringi penciptaan para Empu ikut memberikan aksentuasi, yaitu adanya kepercayaan manusia (maguru alam pada masyarakat agraris) yang berdasar pada filosofi ‘manunggaling kawula Gusti’ tersebut. Filosofi Perrestrial itu tidak hanya milik masyarakat kita, tetapi merupakan sebuah gejala pada semua masyarakat atau manusia di seluruh dunia, yang menyadari akan keberadaannya dalam ruang lingkup kehidupannya berinteraksi dengan alam.
Kemudian penyatuan material logam meteorit tersebut pada ‘keris’ dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat. Kini, kepercayaan terhadap kekuatan yang ada pada keris itu memperkuat eksistensi keris, dengan sebutan adanya tuah, khasiat, yoni, daya magis, dlsb.
Penyatuan material logam meteorit tersebut pada ‘keris’ dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat.
Campo del Cielo – Argentina dipegang M. Sujono; Toluca dari Mexico dan Nantan Iron Meteorite dari Guang Ji - China. Koleksi : TJ.
Hasil ciptaan konfigurasi grafis dari lapisan pamor (meteorit) kemudian memiliki sebuah nilai estetika tersendiri apalagi setelah proses warangan. Dari beberapa sumber diketahui ‘warangan’ adalah senyawa kimia arsenic As2S3 dibawa berasal dari daratan Indochina.
Warangan atau kristal senyawa As2S3 dalam lodong (kaleng kaca).
Warangan (bie-soan; bhs. Cina) sering dipergunakan sebagai obat atau bahan ramuan untuk menyembuhkan luka dan mengurangi rasa sakit akibat asam lambung. Para tabib (shines) di daratan Indochina sering mengobati pasien ambeien dengan mengoles serbuk warangan. Selain itu warangan muda yang ditumbuk (digerus) dan diaduk dengan air 1 sendok teh, ditelan untuk menyembuhkan sakit maag, cara kerja dalam proses penyembuhannya hampir mirip dengan strocain pada obat-obatan modern.
Warangan yang dicampur asam citrate akan bereaksi sebagai senyawa kimiawi anti korosi pada besi. Senjata tua dari belahan Asia seperti Pokiam (pedang China) dibasuh warangan agar tidak berkarat. Transfer teknologi tentang asal-usul penggunaan anti korosi dengan warangan pada para Empu memang tidak pernah diketahui dengan pasti, apakah berasal dari China atau memang para Empu Nusantara jaman dahulu yang menemukannya. Selanjutnya, terjadinya pemahaman nilai yang kompleks dalam bentuk akulturisasi dan sinkretisasi kepercayaan ke-Tuhanan mengangkat keris untuk di’agung’kan. Maka, di wilayah Nusantara terutama di Jawa dikenal adanya tradisi jamasan pusaka atau membersihkan pusaka, biasanya dilaksanakan pada bulan Maulud atau bulan Suro.
Jadi, dapat dirunut dan disimpulkan tujuan mewarangi keris awalnya adalah proses teknis untuk anti karat, yang berkembang menjadi media estetika (seni pada konfigurasi pamor) dan seterusnya kemudian berkembang pula adanya sebuah tradisi atau upacara. Hal ini karena keris mengalami pergeseran nilai dari sebuah senjata teknomik – sosioteknik – ideologis, menjurus sebagai benda khusus yang disakralkan, di-agungkan bahkan menjadi benda yang dipercaya sebagai jimat.
Sekarang eksistensi keris dapat dianggap sebagai benda budaya. Benda yang perjalanannya tak lepas dari sentuhan aspek sosiologis - etnografis, menjadi sebuah warisan budaya dimana UNESCO memberikan penghargaan berupa proclaime-nya sebagai world heritage karya manusia.
Untuk menampakkan alur pamor itu keris direndam cairan warangan (campuran kimia arsenic As2S3 dengan asam dari jeruk nipis C3H4OH). Cairan warangan yang sudah bereaksi dengan asam akan melindungi besi dari korosi, dan merubah warnanya menjadi kehitaman. Sehingga alur pamor akan lebih tampak dengan tampilan putih keabu-abuan karena jenis unsur logam bahan pamor seperti unsur Nikel, Zink, Paspor, Allumunium yang terkandung tidak bereaksi terhadap warangan dan tidak berubah warnanya. Sedang besi akan menjadi hitam. Setelah diwarangi alur pamor akan lebih tampak kontras bisa dibedakan oleh penglihatan (lihat gambar paling depan pada naskah ini).
Empu KRT. Subandi Suponingrat dalam pameran di Taman Ismail Marjuki – Jakarta (2009). Mengolah iron meteorite menjadi seni Pamor!
Pada saat sekarang ini, para pecinta keris dan tosanaji dapat menikmati keindahan seni pamor yang ada pada keris-keris. Beratus bahkan mungkin ribuan pattern (motif pamor) telah diciptakan oleh para empu, baik secara sengaja (Bhs.Jw.; "anukarto wirasat" - dirancang) atau tidak disengaja (Bhs. Jw.:"Jwalono" - unpredictable). Semua motif itu, ada yang bisa dilaksanakan oleh para seniman keris jaman sekarang, namun diantaranya juga tidak bisa dibuat ulang karena tiada kejelasan dan contoh barangnya. Seperti pamor 'jarot asem', 'guntur gunung' dan beberapa jenis lainnya, dimana pada buku-buku tua hanya dibuat sketsnya (gambar tangan), sehingga meragukan apakah betul pamor semacam itu pernah ada.
Salam Budaya.
Dicuplik dari Teks KRISOLOGY
Diprakarsai oleh media khusus tosanaji PAMOR (dalam persiapan terbit).
Krisologi’1 merupakan ‘Bunga Rampai’ disunting oleh Toni Junus,
tulisan dari para partisipan a.l. :
Drs. Budi Hermawan, MM.; A. Ardiasto SH.; Ady Sulystiono S.Sos.;
H.M. Arief Syaifuddin Huda.
Kontributor :
Empu KRT. Subandi Suponingrat, AA. Waisnawa Putra; M. Bakrin; Benny Sadar; Ir. Soegeng Prasetyo S.; Soewarso; Yakun Sunar; RT. Cahyo Suryodipuro; lIham Triadi; Herman Banyuwangi; Ashari B.SE. |
|
| |
Category : Kerisologi
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |