Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
12 Feb 2013   07:35:30 am
KERIS JAMAN PAKU BUWANA

Keris dengan penamaan dhapur Puthut Adipati Karno kinatah emas wadhana gangsal, karya Adipati Anom (kemudian menjadi raja PB V). Bergelar Kanjeng Kyahi Joko Minulyo, yang menggambarkan situasi yang dialami oleh dirinya sendiri pada saat mengalami kejayaannya. Notasi dan penelitian dari koleksi Dalem Hardjonegaran.



Perkerisan terus bergelora, menuju pada keinginan memahami keris secara scientific, spiritual dan bahkan pada ritual dalam proses pembuatannya. Ada diantara empu Kamardikan mulai napak-tilasi cara pembuatan tradisional dengan ritual, ada pula beberapa yang mulai meneliti pasir besi dalam penelitian untuk merekonstruksi keris karya jaman Majapahit, Mataram, besi-besi ‘hurap’ dlsb. Semakin banyak teman-teman perkerisan meneliti keris, tidak hanya sekedar menyukai atau hobbi saja.

Kawan saya seorang dokter terobsesi untuk meneliti kebiasaan empu PB dalam menuangkan gayanya masing-masing. Beberapa keris memang bisa dilacak dari tandatangan sang empu melalui bentuk greneng. Konon beberapa sesepuh meyakini bahwa bentuk greneng merupakan tanda-tangan dari sang empu. Ada pula beberapa keris atau tombak jaman PB ditemukan pahatan tipis nama sang empu semacam grafir pada peksinya, misalnya Japan (empu Japan). Sangat mungkin autographic sudah mulai dilakukan karena pada masa itu tentu autentisitas sebagai etika seni yang masuk dibawa oleh Belanda ikut mempengaruhinya. Ada pula teman yang memperhatikan gaya kinatahnya, sehingga keris PB itu dapat diprediksi siapa pembuatnya.


Kanjeng Kyahi Tumelung Tunggon - Karya empu Japan, pada peksinya nama Japan dipahatkan, nilai autentisitasnya menjadikan nilai tombak sangat tinggi bisa-bisa seharga mobil Avanza. Tombak ini koleksi Kartariadi Gandadinata.

Pada kenyataannya, keris PB memang muncul dengan perubahan gaya dari keris sebelumnya, begitu pula setiap empu dari yang satu dengan yang lain akan dapat dilihat pula gayanya. Harmoni pada keseluruhan bilahnya selalu tidak sama antara setiap karya empu. Sebagai contoh, jika kita amati karya empu Singowidjojo kebanyakan sangat mengutamakan tantingannya (berat-ringan). Karyanya dibuat ringan seperti keris Mataram. Sedangkan empu Djojosukadgo lebih kekar dan wibawa, beberapa keris produksi besalen Mangkubumen bilahnya lebar dan tebal dengan ciri bawang sebungkul, penampang gonjonya mirip tangguh Pajang. Keris-keris karya jaman PB V, tampak merupakan keris yang terus diikuti oleh empu-empu tersohor oleh sebab adanya advisory dari sang Raja.

Saya sudah meneliti beberapa notasi kuno berbahasa Jawa, namun jika diperbandingkan antara apa yang dituliskan dengan benda kerisnya tampaknya ada sesuatu yang lepas. Notasi kuno bisa untuk memperkuat sebuah pendapat, namun tidak selalu tepat untuk penelitian ilmiah.


Karya putran pada jaman PB IX - besalen Mangkubumen. Keris ini bergelar Kanjeng Kyahi Puthut Pandito Pengpengan sebagai penggambaran hebatnya Sinuhun Sugih dalam berkesenian. Koleksi alm. Sany Gondomono.


Detail dari keris buatan jaman yang berbeda dengan seniman yang berbeda.


Kesimpulan dalam kajian sementara menghayati keris PB adalah bahwa apa yang disebut gagrag atau pakem memang masih merupakan panduan, seperti condong leleh dan ketebalan gonjo. Condong leleh sempat diteliti oleh empu Sukamdi yang kemudian sekarang diperdalam pula oleh Ady Sulistyono. Penelitian itu pantas dibukukan, walau pun prinsip utama bahwa keris adalah sebuah karya seni yang bebas, namun panduan 'condong leleh' bisa menjadi suatu bagian dari kaidah seni itu sendiri. Para empu bebas memiliki kreatifitasnya masing-masing yang mewarnai karyanya. Pada karya jaman PB dengan ‘gandhik arca’ biasanya kaku, tidak seperti keris Singobarong dan keris Naga di jaman sebelumnya. Ada beberapa yang cukup spektakular menjadi karya masterpieces adalah design Nogo Sapto.... dan ini pun konon digarap oleh beberapa empu.

Meneliti keris jaman Paku Buwana masih memungkinkan dan banyak sarananya karena jarak tahun yang relatif masih muda, dibandingkan meneliti keris sepuh.

(foto diambil dari buku Tafsir Keris dan Pesona Hulu Keris)

Salam.
TJ.
Category : Kajian | Posted By : administrator

13 Nov 2011   07:44:33 am
KERIS BUGIS MELAYU – DIBUKUKAN...

Buku baru tentang senjata tradisional Bugis.

Tak mudah menyusun sebuah buku tentang keris Sulawesi, kita harus mengakui bahwa notasi kuno pun dipastikan tak memadai, sementara nara sumber tutur sering mengalami pergeseran. Dalam pengetahuan keris kita masuk pada tafsir-tafsir…. Lalu sebagiannya berkait pada artefak keris itu sendiri dan manuscript yang ditemukan.

Diskusi Senjata Pusaka Bugis, 12 Nopember 2011, cukup menggairahkan dengan pemaparan yang sangat komprehensif dari prof. Ahmad Ubbe yang lalu diramaikan oleh hipotesa atau pendapat-pendapat dari Dr. Ramli Raman dari Malay University, yang membawa banyak kabar tentang penelitiannya. Keduanya memiliki banyak detail-detail yang berbeda, tetapi satu kesamaan bahwa keduanya sepakat apa yang disebut Bugis terkait perkerisan bukan asal-usul “keris” tetapi “bugis influence” atau pengaruh Bugis memang ada dimana-mana. Nomenklasi pada keris Bugis – Melayu memang sangat kaya sehingga tampaknya perlu dikuatkan dengan pembakuan istilah bersama para komunitasnya dari sisi pandang yang berbeda-beda.

Dalam buku ”Pesona Hulu Keris”, saya (penulis) pernah ungkapkan dengan hati-hati : ”Although there is not a lot of information about the Malay Peninsula kris, the kris lover communities that have emerge in Malaysia and Singapore are now trying to discover past kris, There for, there are many terminologies for kris hilt that are due to the friendship and influence of the etnic language on the Malay Peninsula. An example is Anak Ayam Sejuk kris hilt for Jawa Demam……./ Tidak banyak catatan tentang keris Semenanjung Malaya, tetapi sekarang mulai diangkat dengan baik oleh komunitas penggemar keris yang berkembang di Malaysia dan Singapura. Oleh sebab itu sangat banyak istilah-istilah hulu keris yang ada lahir karena pergaulan dan pengaruh bahasa etnik Semenanjung Malaya, seperti sebutan hulu keris Anak Ayam Sejuk, untuk menyebut Jawa Demam......”. (132; The Beauty of Krist Hilt).


Diskusi Andi M. Irfan, Ahmad Ubbe dan Ramli Raman (Malaysia)

Tinjauan etnografis tampaknya harus menyertai penelitian dan kemudian dikemukakan dalam berbagai hal, bahwa orang Bugis adalah insan bahari dan telah berasimilasi dengan suku-suku lain di Semenanjung bahkan ke Sumbawa. Disinilah akulturasi terjadi, sehingga mewarnai pada kerisnya, pada sarung (sampirnya) dan busana adatnya.

Jika analisa persebaran keris Jawa punya ”Ekspedisi Pamalayu”, Negara Kertagama... titik tolak buku keris bugis tampaknya masih ada kerancuan terutama pada tafsir-tafsir, apalagi jika persebaran pengaruh Bugis berpijak pada sastra atau roman sejarah I La Galigo... Namun semua kebutaan terhadap Senjata Pusaka Bugis sudah dibuka jendelanya oleh sebuah buku yang sarat dengan bahasa lokalnya, untuk dilanjutkan oleh hasil penelitian para peminat penelitian keris Bugis lainnya.

Ilmu sosial budaya bukanlah ilmu eksakta, mereka akan mengikuti temuan baru, analisa baru atau bukti ilmiah yang baru dikemudian hari nanti, dan kita pahami bersama sebagai sesuatu yang akan terus menuju kesempurnaannya.

Bravo Bugis - Melayu.
(TJ)

Category : Kajian | Posted By : administrator

04 Oct 2011   07:59:41 am
GAGRAK SEBAGAI ISTILAH YANG MULAI POPULER
Dibandingkan pada tahun 1980-an, keris-keris yang kita jumpai sangat terbatas, antara lain umumnya keris tangguh Majapahit dan Mataram. Setelah masa euforia (Indonesia mendapat pengakuan UNESCO), sosialisasi perkerisan semakin semarak. Pameran dan bursa diadakan dimana-mana, keris-keris bermunculan, semakin variatif karena apa yang belum pernah kita lihat mulai bermunculan. Keris penemuan (ditemukan di sungai) mulai terkenal dengan keris Singasari, kini Palembang sungai Musi juga mulai sering ditemukan keris-keris yang spektakuler baik detailnya maupun penggarapannya hingga pada asesorinya, diduga jaman Sriwijaya. Kemudian keris bermuculan di Jawa Barat (Cirebon) sungguh mempesona dengan sarung dan asesori yang sangat kaya model. Kekayaan dhapur rupanya tak terbatas pada yang sudah tertulis di buku-buku yang ada, keris mulai disimpulkan sebagai ’seni rupa’ senjata. Artinya keris-keris yang ada (sepuh) adalah karya yang diciptakan oleh seniman (empu) dengan gaya dan idenya masing-masing.


Area ditemukannya di Banten - dengan hulu keris khas Jawa Barat.


Ditemukan di area Mataram - dengan warangka original Mataram dan Ukiran tanpa Patra.

Kajian-kajian terhadap keris juga terus dilakukan, sehingga melahirkan pengetahuan baru, menambah dan menyempurnakan yang ada, juga merevisi tulisan-tulisan terdahulu. ’Kawruh Padhuwungan’ menjadi semakin kompleks. Jika masa lalu kita terkagum-kagum oleh tulisan GJ. Tammens, W.H. Rassers dengan 'On the Javanese kris', Dr. Isaac Groneman dan penulis lainnya, perkembangan notasi tentang keris kemudian tidak berhenti begitu saja, muncul tulisan ‘The World of The Javanese Kris’ – Garrett Solyom, David Van Duuren dengan ‘An Earthly Approach to a Cosmic Symbol’, kemudian Karsten Sejr Jensen menyusun ‘Kris Disk’.

Ada beberapa hal yang menarik adalah mengenai ”tangguh”. Boleh dikatakan hampir semua penulisan tentang tangguh hanya dilakukan oleh penulis-penulis Indonesia seperti pada buku-buku kuno 'Pakem Katjoerigan’ oleh Tanojo R., ’Ular-ular Panangguhing Dhuwung’ oleh Suranto Atmosaputra, ’Dhuwung Winawas Sakwatawis’ oleh Darmosoegito, ’Pakem pengetahuan tentang Keris’ oleh Kusni, Serat Centhini dan juga penulis seperti Haryono Arumbinang, Bambang Harsrinuksmo.... mereka dengan segala cara menggambarkan tentang tangguh keris dengan kata-kata agar memadai apa yang dimaksud. Saat itulah muncul sebuah kesenangan menentukan tangguh keris. Pengayaan sebutan semakin merebak seperti gagah, wibawa dlsb, sementara apa yang digambarkan dengan kata-kata sering tak bisa ditangkap bentuk visualnya secara tepat, karena karya tulis waktu itu tidak disertakan dokumentasi foto, bahkan tidak melalui research yang serius.

Istilah 'tangguh' bisa disimpulkan artinya adalah ’perkiraan jaman pembuatan’ yang ditentukan dari bentuk keris, dimana bentuk keris itu mempunyai ciri-khas gaya (characteristic style) tertentu sesuai jamannya. Pemahaman ini telah dirintis oleh para sesepuh keris masa lalu, seiring dengan penulisan pada buku-buku yang ada. Kemudian pula, dalam komunikasi para penggemar keris ciri-khas gaya perwujudan seutuhnya (keris bersama warangkanya) diistilahkan dengan kata ”gagrak”, yang kemudian entah dari mana pemahaman itu hadir menjadi sangat kental pengertian ’gagrak’ adalah gaya dari perwujudan seutuhnya sesuai jaman kerajaan atau kedaerahannya. Gagrak dalam bahasa Jawa artinya tampan, gagah.... mungkin korelasinya dengan istilah gagrak keris adalah ”postur” atau ”dedeg”. Artinya melihat dedegnya bisa ditentukan gagrak keris itu adalah Hamengku Buwanan, Pakubuwanan, Luar Jawaan, atau Balian... dst (?). Walaupun mungkin bilahnya adalah tangguh Majapahit atau Mataram. Istilah 'gagrak' lebih dititik beratkan pada aliran jenis warangka dan keharmonisan antara warangka dengan hulu kerisnya.


Ditemukan di area Mataram - dengan warangka original Mataram yang patah dan Ukiran tanpa Patra.

Kesepakatan ’tangguh’ memang terasa riskan, oleh sebab tuntutan agar 'tangguh' lebih dapat 'dipastikan' atau bukan hanya 'perkiraan'. Seolah nilai 'kebenaran ilmiah' menuntut 'tangguh' menjadi kajian akademik terutama pada rintisan ”kerisologi”. Sedangkan yang berkembang dengan istilah 'gagrak' tampaknya lebih menuju simplifikasi (penyederhanaan) demi kesenangan bersama, atau demi perdagangan (barang antiq), sehingga selain istilah 'tangguh' , mulai populer istilah 'gagrak' yang kini menjadi sebuah kerangka pengelompokan. Misalnya yang disebut 'gagrak Surakarta', 'gagrak Ngayogjakarta', 'gagrak Jawa Timuran - Madura', tentu akan menimbulkan pertanyaan pula 'gagrak Majapahitan', 'gagrak Pajang', 'gagrak Mataram' dlsb, itu yang bagaimana...? Sementara kita tak pernah mengetahui yang sebenar-benarnya...

Berbeda dengan Karsten dalam ’Kris Disk’ lebih suka menulis secara jujur (ilmiah) tanpa menyebut 'tangguh' pada setiap foto kerisnya dengan keterangan asal-muasalnya sesuai letak geografis dimana ditemukannya. Dilema tentang ”tangguh” memang masih perlu direnungkan dan ditinjau kembali. Sementara pembiasaan menyebut 'gagrak' juga sangat memungkinkan memunculkan perdebatan. Apakah generasi mendatang cukup bisa menerima begitu saja (?). Sementara itu kesenangan atau hobby untuk menentukan 'tangguh' dan menerima pemahaman 'gagrak' telah bersahabat secara alamiah oleh komunitas penggemar keris di Indonesia, menjadi sebuah ’dinamika’ yang pada nantinya akan dituntut pula ’keilmiahannya’... (TJ).


Ditemukan di area Cirebon, bilahnya menurut beberapa penangguh dianggap tangguh Mataram Amangkurat, sementara beberapa penanguh yang berkecimpung dengan keris Cirebon menyebut tangguh Cirebon.
Category : Kajian | Posted By : administrator

 
1 2 3 4 Next
Apr 2013 May 2013 Jun 2013
S M T W T F S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Categories
Album[37]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[12]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
KANJENG KYAHI PAKSINEBAR
MENGGELORAKAN KERIS DENGAN CARA LAIN
KANJENG KYAI SABDO PALON MENUNGGU JAMAN
KERIS JAMAN PAKU BUWANA
PERLU LOKAKARYA
MENANGGUH KERIS NOMNOMAN PB
Setelah PENOKOHAN, kini HARI KERIS dan MONUMEN KERIS
SECARIK CATATAN BPH SUMODININGRAT
TAFSIR KERIS -dibedah buku....
WAYANG ........SUMMIT.
FESTIVAL KERIS KAMARDIKAN
Archives
January 2013[3]
July 2011[1]
April 2011[7]
August 2010[6]
June 2010[9]
May 2010[10]
March 2010[10]
February 2010[8]
December 2009[3]
November 2009[11]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[80]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter