|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 02 Feb 2013 11:16:56 am |
MENANGGUH KERIS NOMNOMAN PB |
|
|
Kanjeng Kyahi Liman Pamuk PB V - Empu Brojoguno (?), baru 3 orang ahlinya 'perkerisan Solo' yang membenarkan bahwa ini karya Brojoguno PB V. Secara data kewilayahan dan silsilah saya juga setuju bahwa ini karya Brojoguno di jaman PB V walau pun berdhapur Parungsari dan pada gonjo memakai tungkakan landai.
Keris nomnoman PB yang berguwaya, mirip karakter tangguh Pajang biasanya tampak pada tempaan empu Brojoguno - saya duga bahan pamornya Meteor Prambanan (?).
Warangkanya orisinal, pendok perak dan mendak emas, kayu Cendana, hulu keris dari kayu Tayuman. Tulisan pada gandar boleh diabaikan...
Pada buku TAFSIR KERIS, saya banyak menulis tentang keris Solo, karena saya memang dibesarkan di Solo. Dalam buku itu saya mengumpulkan tutur lisan, notasi kuno dan menghimpun asumsi-asumsi sebagai dasar menyusun sebuah buku. Saya tidak ingin terjebak sejarah, misi visi, selera dan adanya trend market keris, maupun pemaksaan kehendak agar menjadi satu ‘pendapat’. Saya menyusun temuan-temuan secara apa adanya dan pengalaman selama perjalanan saya mengenal keris. Hal ini karena saya sadari bahwa untuk mendapatkan data yang benar-benar perlu kajian-kajian. Padahal keris-keris Solo (nomnoman PB) boleh dibilang masih sangat dekat (sekitar 300 tahun lalu), lebih sulit lagi jika kita meneliti keris-keris sepuh seperti keris jaman Kediri, Majapahit, Mataram dst.
Beberapa referensi tutur lisan dan tulisan yang sudah ada, pernah dituliskan dalam buku “Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar” oleh Haryono Haryoguritno. Tidak ada buku lain yang menggelar pembahasan keris Surakarta yang cukup luas. Haryono Hayoguritno adalah orang yang mengkoleksi keris-keris nomnoman PB. Tentu dengan kuriositasnya bisa menggambarkan seluk-beluk keris nomnoman PB. Namun demikian ada beberapa hal yang tidak pasti pada buku itu, walau ingin menggelar data tetapi masih pula terperangkap pada asumsi. Misalnya ‘greneng’ sebagai tanda tangan empu, tangguh-tangguh antara PB IX dengan PB jaman sebelum PB IX, dan beberapa detil-detil yang masih perlu dikaji lagi. Banyak hal yang masih perlu diperdalam, bahkan keterkejutan saya saat menemukan adanya data baru yaitu Empu Mloyokusumo, Empu Mloyo Curigo (putranya), merupakan hal yang signifikan untuk ditulis. Tanpa dipengaruhi oleh bagus dan tidaknya karya mereka. Seperti saya pernah menyusun artikel dari data-data teman saya di Madiun tentang Empu Guno dan Empu Pakurodji... di majalah PAMOR.
Tanpa mengurangi hormat saya, penulis buku-buku yang ada, tampaknya kita perlu mengadakan penelitian ulang. Karena saat ini ada banyak pekembangan yang ditemukan oleh teman-teman perkerisan (di Solo khususnya). Banyak diantara mereka mendarat pada lokasi (wilayah) dan lingkungan dimana keris Nomnoman PB itu ditemukan, ditambah pula penemuan notasi kuno dalam tembang, silsilah bahkan keterangan dari perpustakaan kraton. Pedagang atau hunter keris ikut memberikan andil yang besar, terkecuali memang ada pedagang yang suka 'asal' membuat dongeng. Saya pernah mendapat tantangan dari salah satu ahli keris (penulis keris Luar Negeri), untuk bagaimana membuat buku yang hanya mengkhususkan penelitian keris-keris Brojoguno. Misalnya menyusun buku berjudul “KERIS BROJOGUNO”. Belum 250 tahun....!
Saya ingin sekali membuat team dengan mereka yang konsern dengan hal ini. Misalnya para ahli keris seperti Kanjeng Warno (Dalem Hardjonegaran), Mas Pauzan (Mpu), Joko Suryono (pak Jack), mbah Giyatno, Herman Tandyo, Warsito Supadmo, Sulistyono Ady, Benny Hatmantoro dan banyak sekali yang sebetulnya dapat menjadi anggota team untuk melakukan pendataan, penelitian dan analisa khusus keris Brojoguno. Mengumpulkan keris Brojoguno dari kolektor atau keluarga Kraton Surakarta, mengumpulkan data, notasi dst. Penangguhan keris nomnoman PB, saya anggap masih belum bisa dianggap ilmiah jika tidak dimulai dari hal-hal yang lingkupnya kecil dan khusus dahulu.
Salam Budaya,
TJ. |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
|
| 27 Jan 2013 11:11:00 pm |
Setelah PENOKOHAN, kini HARI KERIS dan MONUMEN KERIS |
|
|
Berita dari Solo, 26 Januari 2013.
BEDAH BUKU dan PEMUTARAN FILM TAFSIR KERIS.
Komunitas keris dan para pelestari keris dihadapkan pada pilihan antara pesimistik atau optimistik untuk membawa masa depan keris menuju kejayaannya. Buntje Harbunangin pemikir kebudayaan, pada acara Bedah Buku dan Pemutaran Film Tafsir Keris karya Toni Junus, di Balai Soedjatmoko (Bentara Budaya) Solo, Sabtu 26 Januari 2013 kemarin, mengutarakan ada beberapa tawaran yang bagus untuk dilakukan oleh komunitas keris, yaitu menciptakan momen-momen yang menorehkan nilai dari setiap langkah kegiatannya. Tiga tawaran menarik, pertama penokohan KGP. Hadiwidjojo sebagai ikon Kerisologi sudah dideklarasikan Komunitas Panji Nusantara bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Oktober 2012 lalu. Kedua adalah perlunya Hari Keris Nasional segera diusulkan, yaitu tanggal Kongres SNKI yang pertama di Solo (setiap 20 April) dijadikan pilihan katimbang tanggal penghargaan UNESCO yang sifatnya pemberian dari luar, tidak nasionalis kata banyak pihak. Ketiga pertemuan di Balai Soedjatmoko ini segera akan dilanjutkan dengan membentuk Panitia Inti untuk membangun Monumen Keris di Kota Solo dengan pemikiran dan dana secara gotong royong. Mengingat kota Solo paling pantas memiliki Monumen Keris.
Budayawan MT. Arifin membedah buku Tafsir Keris dengan beberapa catatan yang menurut pemahamannya cukup menarik untuk dapat diperdalam.
Sementara Toni Junus pada closing statementnya lebih banyak mengapresiasi kepada khalayak pelestari keris dalam pencapaiannya hingga sekarang. “Saya ingin mendorong banyak tokoh keris yang moderat, kreatif dan progresif bermunculan sesuai kemampuannya masing-masing, karena keris bagi saya adalah kawruh yang kompleks”.
Film Tafsir keris dengan durasi 44 menit digarap dengan apik berbahasa Inggris untuk sosialisasi ke dunia international, cukup memukau karena mengangkat kearifan lokal seperti tembang, mantra-mantra dalam ritual-ritual pembuatan keris.
Acara yang dipandu Ardus M. Sawega dengan moderator Benny Hatmantoro ini berlangsung hampir 4 jam dan dipadati pengunjung, hingga meluber ke halaman luar gedung.
Salam Budaya.
TAJUK BALAI SOEDJATMOKO
Oleh Ardus M. Sawega.
Sabtu 26 Januari 2013 pk 09.30 WIB
Buku “Tafsir Keris” terbitan tahun 2012 mungkin bisa mengundang polemik panjang di masyarakat. Ini terutama karena Toni Junus (57), pria kelahiran Solo, menyoroti keris dari aspek esoterik. Aspek ini jarang dibicarakan di ruang diskusi kebudayaan secara terbuka, sekalipun faktanya tafsir tentang keris dari aspek esoterik tadi berlangsung di masyarakat perkerisan.
Menurut Toni Junus, frasa esoterik digunakan untuk menyebutkan suatu misteri atau “isi” yang ada di balik fisik keris. Sebagian menganggapnya sebagai “kekuatan gaib”, dan ini menjadi daya tarik bagi kalangan penggemar keris. Melalui aspek esoterik ini terkandung harapan agar kekuatan di balik keris bisa membantu menyelesaikan persoalan hidup.
Buntje Harbunangin, editor “Tafsir Keris” menunjukkan, keris adalah salah satu pintu masuk untuk memahami esoterik yang merupakan bagian dari “dunia dalam” Kebatinan Jawa. Toni Junus mengajak kita untuk memahami bahwa kepercayaan esoterik pada keris itu merupakan kenyataan dalam budaya bangsa, khususnya dalam alam pikiran orang Jawa.
Setidaknya, filsuf Franz Magnis-Suseno menilai, buku “Tafsir Keris” memberikan sumbangan atas usaha untuk tidak membiarkan budaya Jawa mati tersingkir oleh ribut bising modernitas.
Forum Bawa Rasa Tosan Aji Soedjatmoko bekerja sama dengan Komunitas Panji Nusantara Jakarta menggelar diskusi bedah buku “Tafsir Keris” ini bersama Buntje Harbunangin, Staf Ahli Wakil Menteri Bidang Kebudayaan, serta budayawan MT Arifin dari Solo, dan Toni Junus sendiri. (Ardus M. Sawega.)
http://www.bentarabudaya.com/agenda.php?id=1247
http://www.infobudaya.com/keris-dan-budaya-jawa/25-keris-membuat-budaya-jawa-tetap-hidup.html |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
|
| 19 Jan 2013 06:59:33 am |
TAFSIR KERIS -dibedah buku.... |
|
|
Buku TAFSIR KERIS bisa dibeli:
Ibu Mamie (hp. 0857 1655 0130)
Majalah Eksekutif
Pusat Niaga Duta Mas - Fatmawati
Blok B2, No. 24 (Lantai 3 & 4)
Jl. RS. Fatmawati No. 39.
Jakarta Selatan.
Telp: 021 72799638
Ir. Soegeng Prasetyo (hp. 0812 928 6322)
Lia Kusumawardhni (hp. 0852 8037 2459)
Sekretariat Panji Nusantara
Kompl. Ruko Malaka Country B10.
Jl. Raya Pondok Kopi
Jakarta Timur.
Bali
Ganesha Bookshop, (depan kantor pos)
Jalan Raya,
Ubud - Bali
- |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
| |
| Prev 1 2 3 4 ...11 12 13 Next |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |