|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 11 Apr 2011 06:31:22 am |
Kanjeng NYAI Sri Tanjung |
|
|
KK. Sri Tanjung tangguh Kediri dan KN Sri Tanjung tangguh Kamardikan
Keris dengan muatan Epigramatik telah dimunculkan kembali dalam ciptaan tangguh KAMARDIKAN. Mewarnai KONGRES NASIONAL I SNKI. Dijadikan cover buku ”Keris, Mahakarya Nusantara”.
Sebelumnya banyak keris yang sengaja untuk mengutarakan tema, dan menjadi media seni seperti memuat dongeng, kisah yang kemudian melegenda serta tulisan kakawin, seperti keris Kanjeng Kyahi Arjuna Wiwaha (tangguh Kediri) yang dihiasi relief tentang Arjuna yang digoda oleh bidadari cantik dalam pertapaannya.
Jika pada jaman Kediri pernah dibuat keris Kanjeng Kyahi Sri Tanjung koleksi KRAT. Ali Rahmatdiningrat, kemudian yang sekarang karya Toni Junus menamakannya dengan Kanjeng NYAI Sri Tanjung.
Kisah Sri Tanjung telah populer di dunia sastra kuno, memuat sebuah pesan tentang kejujuran, tekad, kesetiaan dan niat suci. Pesan dari ikon keris Kanjeng Nyai Sri Tanjung perlu dihayati sebagai falsafah dengan nilai-nilai yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan, agar pembangunan dan perjalanan bangsa Indonesia tidak meninggalkan jati diri, Indonesia harus berbangga sebagai bangsa yang memiliki banyak sekali warisan budaya yang bermuatan falsafah, pekerti dan budi luhur.
Sekelumit tentang kisah Sri Tanjung saya beberkan agar dapat dimengerti sebagai inspirasi.
SRI TANJUNG
Cihnane luwih, yan suganda nelikup, Hyang kala wus prapta....
Secuil doa, yang sempat dilantunkan oleh Sri Tanjung kepada dewata. Dalam duduk simpuhnya, perempuan jelita itu menyadari hidupnya tak akan lama. Saat doa ditutup, Sida Paksa, pria yang baru menikahinya, menghunjamkan keris dengan kemarahan membabi-buta. Gending selonding pun riuh rentak.
Tubuh Sri Tanjung terkulai. Perlahan sukmanya menghadap ke kahyangan. Tapi pintu tertutup rapat, mungkin saat kematiannya belumlah tiba.
Dalam keremangan, muncul Betari Durga, penguasa kematian.
Sosoknya membara, pertanda dia hendak mengembalikan kesucian yang telah terenggut. Dengan tirai transparan membalut tubuh Sri Tanjung, Durga meruwat perempuan itu, dan Sri Tanjung kembali hidup.
Kisah asmara segitiga antara Sida Paksa (Mahapatih), Sri Tanjung dan Prabu Sulakrama (sang Raja) dalam sastra kuno yang masih berkumandang. Sida Paksa dan Sri Tanjung merupakan dua sejoli yang tengah mabuk kepayang. Ketika Sida Paksa menikahi dan memboyong Sri Tanjung ke kerajaan, muncul petaka. Prabu Sulakrama, sang penguasa, kepincut pada kemolekan Sri Tanjung.
Untuk memisahkan Sida Paksa dari Sri Tanjung, sang Raja mengutus Sida Paksa keluar memburu pengacau di belantara.
Saat Sida Paksa berangkat kesana, Prabu Sulakrama merayu Sri Tanjung. Namun Sri Tanjung yang setia kepada Sida Paksa, menolak rayuan sang Raja. Nafsu berahi meruap, Sulakrama memerkosa Sri Tanjung. Sang Raja lalu memutarbalikkan kejadian ini. Kepada Sida Paksa yang telah kembali dengan selamat, dia justru menuduh Sri Tanjung merayu dirinya. Sida Paksa lebih percaya kepada sang penguasa ketimbang kepada belahan jiwanya. Tragedi pun terjadi. Sri Tanjung dibunuh oleh Sida Paksa atas keyakinannya bahwa ia telah bersalah mengotori kerajaan. Namun ditengah Sri Tanjung terkulai, darahnya justru menebar semerbak wewangian. (digubah dari artikel Sita P. Aquadini).
-tj |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |