Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
22 Sep 2009   12:00:01 am
QUO VADIS ESTETIKA KERIS

Keris Tangguh Purwacarita, besinya nyerat, grenengnya bernyanyi serta rancang bangun luknya goyang pinggul. Koleksi : Hengki Joyopurnomo.


Keris telah menjadi barang yang tua dalam peradaban modern ini.
Keris tidak lagi dijamah oleh generasi muda pada peradaban modern ini.
Kenapa?
Barangkali treatment atau perlakuan kita terhadap keris yang terlalu kuno untuk beradaptasi pada dunia modern.
Atau barangkali kita telah tidak mampu bersaing dengan MTV dan ngakngekngok dan sebangsanya?

Sebuah kemunduran yang bukan ketertinggalan ....

Kita selalu mendengar kekaguman para penggemar keris memuji keris-keris tertentu misalnya pada jenis besinya, padahal yang dimaksud besi yang bagus juga tidak jelas kriterianya. Secara teoritis jenis besi yang bagus sering dikaitkan dengan estetika penglihatan bukan keberadaan teknologi kekerasan atau ketajamannya. Lalu ada diantara kita berdebat tentang jenis tampilan pamor dan motif pamor, diantara mubyar (pamor byor/deling) dan pamor kelem memiliki penggemarnya masing-masing, hingga menjadi perlakuan para pewarang (ahli jamas) untuk membuat byor atau kelem. Konon dari kraton justru kemubyaran harus disimpan untuk ”tidak sombong” atau bersahaja, maka pamor keris dikelem alias dibuat kusam. Lalu dibeberapa pihak menghargai garap pamor yang sulit (pamor sempurna atau pamor jadi), dipihak lain lebih baik pamor kandas asal karya itu punya garap yang bagus. Lalu kita dihadapkan pada contoh-contoh yang sebetulnya kita sendiri tak tahu apakah contoh itu barang sempurna atau barang gagal. Apalagi jika telah memasuki sebuah rancang bangun yang disebut garap .....oh!

Kala kita berbincang tentang keris Kamardikan, kita sering berdosa karena selalu menghilangkan arti dan pemaknaan estetika yang telah tertanam didalamnya. Keris Kamardikan dianggap tidak berguwaya lalu dicarilah cacat dan kekurangannya, dengan mencari persesuaian patron kraton Jogya ataupun Surakarta.

Teman saya, pengrajin dari Madura bahkan mengeluh, katanya ”sudah njiplak pleg” sebilah keris yang dianggap master yang sengaja dibawa ke Madura oleh pemesannya, contoh kerisnya didepan mata alias ngerpek, dengan ukuran sketmat yang pasti. Akan tetapi hasilnya tetap dikritik disana-sini oleh para pinisepuh .... lantas iapun termenung, apa betul para pinisepuh itu memang orang ahli yang bisa menilai karya itu ansich, atau karena si pengrajin bukan dari Solo atau Jogya?

Ketika kita kembali bercermin, ternyata perdebatan dan adu keahlian menilai keris telah membawa langkah kita ke dalam rongga-rongga kusut, untuk memaksakan persamaan pendapat yang ternyata kusut pula.

Konon ada anak muda yang semakin bingung tatkala telah yakin keris yang dimiliki sudah tepat, ternyata luput juga. Bahkan dirundung ketidak mengertian dengan adanya madzab-madzab pada kriteria pernilaian yang kemudian muncul seperti rumusan-rumusan .... ada Tanjeg ...ada Tarikan .... ada wangun dan ada-ada yang lainnya yang semakin mengkusutkan pemahaman sistematik yomorjosingun! Sementara yomorjosingun pun belum selesai karena masih dituntut untuk membuktikan kesahihannya .....”sing kepiye tho ....yomorjosingun sing apik”.

Tampaknya betul, bahwa kita selalu berbudaya keterkucilan, merasa keterhinaan (humiliated cultural) jika tidak dapat mengikuti sesuatu yang seolah telah dipakemkan bahkan merasa takut jika tak masuk dalam suatu madzab penilaian...... "iki lho keris sing apik ...!", kata salah seorang pinisepuh, sementara oleh sebab ucapan itu beribu-ribu keris terdampar dan terhampar seolah tanpa nilai!

Keris memang barang egoistik!

Kita tidak pernah berani berbudaya penuh harapan (cultural hope), kepeloporan, visioner, positif progresif untuk mengejar konsep modernitas dalam pelestarian perkerisan.
Kita selalu pula berbudaya untuk diselami, harus selalu diikuti, dituruti dan tidak peduli ..... padahal kita bukan untuk ditunggu melainkan harus menghadang berdiri di depan para generasi muda!

Jika mau membuka mata, ada sebuah pertanyaan : Apakah kita telah pernah membahas sebuah estetika yang menantang dan berlawanan dengan pemahaman yang ada sekarang? Padahal estetika itu telah digoreskan pada sebilah keris yang ada sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu .... di jaman Purwacarita. Monggo dilaras fotonipun (mari dihayati foto diatas). Mungkin justru pada keris inilah, nilai-nilai estetika ......itu? (TJ).


Foto : Dok. Pamor
Category : Estetika Keris | Posted By : administrator

 
1
Aug 2009 September 2009 Oct 2009
S M T W T F S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30    
Categories
Album[37]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[12]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
KANJENG KYAHI PAKSINEBAR
MENGGELORAKAN KERIS DENGAN CARA LAIN
KANJENG KYAI SABDO PALON MENUNGGU JAMAN
KERIS JAMAN PAKU BUWANA
PERLU LOKAKARYA
MENANGGUH KERIS NOMNOMAN PB
Setelah PENOKOHAN, kini HARI KERIS dan MONUMEN KERIS
SECARIK CATATAN BPH SUMODININGRAT
TAFSIR KERIS -dibedah buku....
WAYANG ........SUMMIT.
FESTIVAL KERIS KAMARDIKAN
Archives
January 2013[3]
July 2011[1]
April 2011[7]
August 2010[6]
June 2010[9]
May 2010[10]
March 2010[10]
February 2010[8]
December 2009[3]
November 2009[11]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[80]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter