|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 28 Feb 2010 11:21:29 am |
PENCERAHAN 2 |
|
|
Foto koleksi Hengki Joyopurnomo
Mantera yang merupakan seruan sanubari itu telah menjadi sebuah konvensi manusia dengan alam, menebarkan kekuatan semestawi menjadi sebuah manifestasi berkah, ketentreman dan kesejahteraan.
Ketika dalam sebuah ekstase, seorang empu mulai menggoreskan tantra. Ia merajahkan sebuah gambar yang belum ada dalam imajinasinya. Gambar yang lahir dengan “niatan” yang “tak berniatan”… dalam Zen Budhisme disebutkan “zero” … non doing… non agir.
Maka ketika ”zero” sebenarnya “ada”, proses spiritual ini yang menjadi konvensi manusia dan alamnya yang melahirkan sebuah penandaan baru… tanda rajah!
Rajah dalam bahasa Kawi artinya gurat tangan... sebuah tulisan, atau lukisan dari sebuah kehendak. Tentunya kehendak Sang Hyang Maha Kuasa. Ketika bayi lahir melihat dunia … disitulah manusia telah membawa kehendakNya, dan telah tergambar dalam rajah tangannya.
Sebilah keris sering menjadi bidang ekspresi sang empu dengan menggurat rajah.
Empu menuliskan pesannya sesuai apa yang telah menjadi perjanjian dengan alam semesta. Jika kita perhatikan empat gambar ”pamor rajah” dalam foto keris dibawah ini... maka pemaknaan ”isoteri keris” tergambar berupa rajah...
Isoteri sering dibayangkan sebagai kekuatan berfigur...(figuratif) sering menyesatkan.. namun isoteri juga sering dipahami sebagai Roh, serta pula dalam kalangan modern menterjemahkan isoteri dalam bahasa getaran elektro magnetik.
Isoteri bisa ada karena ”spiritualisasi” dalam pembuatan keris, bukan hanya keris tua jaman dahulu saja, namun spiritualisasi tetap berlangsung pada pembuatan keris seniman masa kini adalah karena adanya Subyek (seniman) yang melahirkan Obyek (keris) dalam sebuah prosesnya yang memiliki kehendak (intelektual).
Pamor Rajah ... menjadi sebuah pemaknaan yang sulit dimengerti namun ia memiliki sebuah arti semiotik sebagai gambaran proses kehidupan manusia.
Ibarat matahari dan cermin yang ”rot sinorotan – lik winalikan” saling daya-mendayai; ”ono hurip ono jodo lan ono pepesten”; ”ono loro ono tombo”... ada kelahiran ada jodo ada kematian; ada sakit ada obatnya... maka salah satu lambang pegiat bidang HIV-AID pun melukiskan pita yang tidak kita ketahui dari mana mereka mengadopsi. Namun itu yang pasti goresan itu sebuah lambang tentang keyakinan akan adanya kasih Sang Hyang Maha Kuasa... seperti dalam keris berpamor rajah.
Salam Budaya! TJ |
|
| |
Category : Budaya
| Posted By : administrator |
|
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |