|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 01 Sep 2011 07:51:56 pm |
SULITNYA MENGUAK PENEMUAN SRIWIJAYA |
|
|
Penemuan sungai Musi, mendak Sriwijaya yang telah aus ornament 'tumpal'nya.
Saya pikir dan renungkan ternyata begitu sulitnya merangkai perjalanan keris. Saya menyimpulkan bahwa ’sejarah’ keris tidak bisa dituliskan dengan sembarangan dan digampangkan. Setidaknya penelitian archeologist harus berperan. Sudah hampir 2 tahun saya mengikuti jejak penemuan Sriwijaya, karena seorang teman sedang berkutat disana... berburu dan mencatat penemuan sungai Musi. Beberapa hal sangat menakjubkan... ada kemungkinan akan mengubah hipotesa ”keris Singosari” atau lebih tepat disebut jaman Kediri. Bahkan prototype keris jaman itu pun mungkin perlu dikaji ulang, karena pemahaman kita belum melalui penelitian dari manuskrip kuno, sosiologi, anthropologi dan archeo metallurgi. Kita menyerahkan pemahaman-pemahaman yang ada sekarang ini pada kawruh yang turun temurun minim data ilmiah.
Miniatur yang mungkin hanya dapat dicapai dengan alat kuno yang lebih sederhana.
Perhatikan mendak (ring) Sriwijaya yang tak ternilai harganya oleh karena pekerjaan yang sangat rumit dan detail, dengan ornament tumpal yang merupakan chronogram (simbol tahun).
Sriwijaya jauh lebih tua dari jaman Kediri (Mataram Hindu?) ... pada penemuan-penemuan sungai Musi sangat jelas hampir mayoritas keris yang ditemukan memiliki prototype sama dengan penemuan Brantas yang dikategorikan Kediri (saya lebih suka menyebut Kediri dari pada Singosari). Keris di sekitar Sumatera selatan ini, saya yakini pastilah sangat indah dan bukan sembarangan. Beberapa indikasi prototype keris Sriwijaya saya temukan masih sama dengan Melayu (Palembang/Kesultanan) dimana masih ditandai sisa-sisa estetika 'greneng' dari masa Budha Sriwijaya, serta teknologi emasnya yang tak tertandingi. Tetapi berbeda pada penampang gonjo (sirah cecak) serta postur condong leleh yang sangat membungkuk. Sedangkan keris penemuan Musi jika dibandingkan keris penemuan Brantas terdapat perbedaan pula pada sirah cecak (penempang gonjo) dan perbedaan pada ornamental asesori emas terutama pada mendaknya (ring). Ada beberapa peninggalan seni emas yang sangat signifikan menunjukkan bahwa sebuah kebesaran keris Sriwijaya pernah di-agungkan.
Penemuan Sriwijaya sangat berbeda pada sirah cecak dan rumbai grenengnya dibandingkan temuan Brantas, tetapi yang paling signifikan adalah pada mendak bawaan yang masih menyatu, ornament tumpalnya sudah aus, tersisa tiang pegangannya saja.
Pergeseran alat, keinginan pada kepraktisan menurunkan nilai pada hasil karya kriya emas yang canggih di jaman lampau.
Penemuan ”ring keris” (mendak; Jw) dapat menjadi indikasi bahwa memang penemuan Musi dan Brantas tidak sama, dimana tampak bergeser dari detil yang indah.
Berbeda pula setelah jaman Kesultanan dimana semua menjadi sederhana oleh sebab hal: 1. Pengabdian seniman pandai emas (Panday Tamraga) jaman Budha. 2. Kehidupan yang layak bagi seniman waktu jaman Budha. 3. Ada pergeseran teknologi emas.
Terjadi penyederhanaan dimana ornament tumpal berubah menjadi untu walang (Kesultanan)
Mungkin perlu menelusuri bab 3... tentang pergeseran teknologi emas, saya menganalisa teknik tiup (ubub) masa kuno masih menggunakan mulut, sementara kemudian teknologi maju menggunakan ububan kaki, sehingga pekerjaan yang sangat kecil dan detail mulai disederhanakan oleh sebab kemampuan alat sudah berbeda pencapaiannya. Ububan kaki memang lebih cepat dan praktis, sementara teknik kuno menjangkau kerumitan yang tiada tara.
Keris Sriwijaya (Palembang) terus mempengaruhi prototype jaman berikutnya, yang mungkin pula dibawa oleh para seniman mantan pengabdi Tarumanegara... ke timur, lalu hijrahnya empu-empu pada jaman Pajajaran... Ada indikasi bukan oleh sebab ekspedisi Pamalayu dari Singosari yang kemudian mempengaruhi keris-keris seperti yang ditemukan di sungai Musi...?
-
TJ |
|
| |
Category : Kajian
| Posted By : administrator |
|
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |