|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 22 Mar 2013 10:14:01 am |
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol |
|
|
Keris buatan Nyi Sombro dipercaya dapat membantu melancarkan proses kelahiran bayi. Bahkan pada beberapa pemahaman dipercaya pula memiliki kekuatan gaib untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan rumit yang dialami dalam kehidupan. /A Kris made by Nyi Sombro is believed to help in the smooth birth process of a baby, and in some other conceptions it is even believed to have magical powers to help in the solving of various complicated matters in life. (buku Tafsir Keris/Krs: An Interpretation halaman 23).
Sanggaran Selo Payung, pernah dipugar oleh Faisal Abda'oe.
‘RUU Santet’ yang sekarang sedang ramai dibicarakan orang adalah petikan di Pasal 293 ayat (1) RUU KUHP, yang bunyinya, "Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV”. Dalam RUU tersebut tidak secara gamblang memakai istilah “santet”.
Selanjutnya, di ayat (2) dinyatakan, "Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan perbuatan tersebut untuk mencari keuntungan atau menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan, maka pidananya dapat ditambah dengan 1/3 (satu per ¬tiga)."
Pada ayat (1), masyarakat dibingungkan dengan kata “gaib”.
Pada ayat (2), masyarakat dibingungkan dengan pengertian “mata pencaharian” atau profesi.
Ada beberapa hal yang perlu dikaji terlebih dahulu yaitu kata “gaib”, karena pemahaman terhadap maksud dari kata “gaib” dalam RUU ini mengacu kepada sesuatu konotasi negatif. Padahal beribu bahkan berjuta fenomena alam dan kehidupan itu adalah ‘gaib’ contoh sederhana adalah gaibnya proses kelahiran bayi, tumbuhnya buah, berpindahnya angin, adanya siang dan malam dst.
Pengakuan manusia terhadap kebesaran Tuhan merupakan pemaknaan adanya sesuatu yang bergerak pada kekuasaanNya dan melalui fenomena yang disebut gaib. Hal ini telah dipersempit demi urusan yang tidak pelu. Penghayatan dan pemahaman terhadap ‘gaib’ telah dipancung menjadi sebuah kerangka undang-undang pidana.
Pasar Kembang.
Konon di negeri “antah berantah” juga sedang akan disahkannya RUU Konyol, RUU yang dirancang karena di negeri itu banyak terjadi kebiadaban, dekadensi moral dan korupsi serta kepentingan-kepentingan politik yang tidak bermanfaat.
Jaman dahulu kala, negeri ini sangat dikagumi oleh negara-negara lain di dunia, karena punya falsafah hidup yang luhur sebagai dasar perilaku keseharian yang sangat luhur. Peninggalan kebudayaannya yang tinggi telah mempesona banyak badan dunia untuk ikut memugarnya, intangible heritage (peninggalan budaya tak benda) seperti kesenian, kepercayaan, bahasa dan adat istiadatnya. Peninggalan budaya luhur yang sebetulnya menjadi kunci yang efektif dengan cara diapresiasi, disosialisasikan nilai-nilainya kepada generasi muda untuk membuat masyarakatnya tertata dalam suasana tenteram. Istilahnya “tata tenteram kerta raharja”.
Aturan tak tertulis yang luwes dipeluk pada masyarakat negeri itu berjalan beribu tahun yakni sebagai contoh adalah “pemahaman sebab akibat – karma pala dari perbuatan masing-masing orang”, semuanya secara religius diserahkan kepada kekuasaan Tuhan yang mereka yakini. Orang yang mempunyai maksud jahat akan terkena hukumannya sendiri oleh Tuhan YME. Dukun jahat matinya tersiksa sakit penyakit, sesepuh yang memberi kebaikan, pencerahan dan mendoakan banyak orang akan hidup dan mengalami kematian yang sempuna dalam keluhuran budinya.
Tiba-tiba RUU Konyol yang berpijak pada pandangan sempit akan disahkan, mungkin saja tujuannya agar negeri itu semakin degradasi. Mulai menghapuskan keluhuran ‘budaya’ yang ada, dosa digeser menjadi semacam ‘abstraksi’ saja. Mengaduk-aduk kebiadaban untuk menjadi semakin biadab dengan membuat aturan-aturan manusiawi, upaya untuk menuju peradaban yang terkandung dalam ‘dasar negara’ tidak diabaikan lagi. Sejarah kebesaran masa lampau dilupakan, kebudayaan dan peninggalan luhur budaya spiritual nenek moyangnya diperangi. Konon tak terpikir lagi RUU Konyol akan membuat masyarakatnya mulai saling fitnah, dan disinilah muncul absolutisme paham yang dipaksakan.... lalu negeri ini kehilangan “Jati Diri”nya.... oh kasihan....
(renungan TJ). |
|
| |
Category : Album
| By : administrator |
|
|
| 13 Mar 2013 11:47:49 am |
KANJENG KYAHI PAKSINEBAR |
|
|
Karya keris Kamardikan yang terus berkembang.
Migrasi burung merupakan instink alami, ibarat dalam kehidupan manusia menjalani siklus Sangkan Paraning Dumadi ... tidak ada kekuatan lain selain tuntunan dan keselamatan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita...
Keris koleksi Evo Siswanto - Semarang. |
|
| |
Category : Album
| By : administrator |
|
|
| 13 Mar 2013 11:46:04 am |
MENGGELORAKAN KERIS DENGAN CARA LAIN |
|
|
Bersama Soegeng Prasetyo dkk, di Selo Payung Kahyangan (Mata-air Bengawan Solo).
Kini pelestarian keris sudah menggelora sedemikian majunya.
Banyak hal yang telah dilakukan... kita punya banyak falsafah yang sangat familiar salah satu contohnya seperti “memayu hayuning bawana”, prinsipnya menyadari bahwa kita masing-masing adalah tangan-tangan Tuhan, artinya sekecil apapun pasir itu berguna untuk menjadi sebuah bangunan. Maka dari itu saya menghargai semua teman-teman saya, baik itu pedagang, para konsultan supranatural yang berkecimpung di perkerisan atau yang secara praktis aktif di paguyuban...
Saya sering merenungkan dan mengadopsi cara berpikir strategis untuk perkerisan, tetapi terkadang oleh karena dinamikanya yang kompleks dalam perkerisan dibutuhkan keberanian mendobrak. Contoh soal masalah keris milenium (dulu istilahnya begitu), Kompas Gramedia pernah mengadakan pameran akbar yang pertama pada tahun 1996 di Bentara Budaya Jakarta. Kalau tidak salah 11 September, ini sebuah kebangkitan perkerisan. Munculnya mas Hajar Satoto dengan seni modern keris yang sangat menggembirakan, dan pameran ini memperkenalkan bahwa waktu itu sudah banyak teman kita melakukan eksperimentasi dengan meteor, silver nickel dlsb.... Bahkan teman-teman dari luar negeri datang melakukan eksperimen di Solo. Hanya saja waktu itu keris Kamardikan masih dianggap ‘keris-keris’an (mengambil istilah seorang sesepuh).... Sekarang keris kamardikan sudah menjadi sebuah komoditi baru... belanja keris kamardikan yang bagus dipastikan sudah diatas 5 juta.
Saya pikir 'pasar' keris, baik keris sepuh atau keris kamardikan akan semakin bergairah lagi jika kita memahami dan memberi ruang para penggemar mistik keris. Indikatornya adalah buku saya “TAFSIR KERIS” yang diminati hingga keluar negeri. Bahkan teman saya dari Belanda datang kemari untuk mencari kembali pengetahuan mistik dan nilai-nilai spiritual keris... Padahal sebelum terbit saya sempat ditonjok secara tak sopan untuk dihalangi agar tidak bisa terbit...
Ini sebuah fakta yang tidak bisa dibenam begitu saja. Bagi saya, lebih baik kembali pada prinsip bahwa ‘mari kita berkarya’, saling memahami dan menghargai apa yang dilakukan sesama teman penggemar keris, sesama pelestari keris. Berkarya dalam rangka melestarikan keris itu sangat banyak yang bisa dilakukan... yang penting punya energi, mau berkorban waktu dan finansial.
Melestarikan keris dengan cara lain, sedang saya garap, yang penting berkarya.... dalam perjalanan ini mengajarkan kepada saya pentingnya keterbukaan. Menyadari bahwa keris hingga saat ini belumlah memiliki sebuah nilai baku dalam hal ke’ilmiahan’nya. Diperlukan keberanian membongkar hal-hal lama yang merupakan asumsi dan melakukan penelitian ulang, sambil memahami falsafah “memayu hayuning bawana”. Sumbangkan apa yang bisa kita lakukan... Berkarya dalam lingkup keris agar keris dikenal dan dimiliki oleh orang lain, bangsa lain dan dapat mendunia.
(renungan pribadi).
Pasar Kembang di SOLO.
Soegeng Prasetyo membidik sambil membenamkan diri dalam air.
TJ, Buntje Harbunangin, Soegeng Prasetyo dan Novandi BP, ...mengkaji... kenapa ada 'Pasar Kembang'???
Silaturahmi bincang-bincang mistik keris ke Parangtritis - Bunda Lia Songgo Buwono. |
|
| |
Category : Album
| By : administrator |
|
| |
| Prev 1 2 3 ...25 26 27 Next |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |