|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 31 Mar 2010 07:22:45 am |
Perjalanan Keris For The World 2010 |
|
|
Salam JavaKeris....
Kita di Jakarta ini setiap Sabtu pada kumpul di Galeri Nasional Indonesia, ngrumpi positip dan rapat, laporan, evaluasi sambil yang belum kenalan ya pada kenalan. Mas Agung Kenzie juga sudah beberapa kali hadir, bahkan saya pernah ketemuan di Airport sebelum ke Bali, beliau akan menangani ’customs clearence’ pengikut luar negeri; juga mas Rasyid dan mas Oesman. Pak Wiwoho Basuki (SNKI) juga hadir, merakyat ikut ngrumpi makan Hoka-hoka Bento dalam stereofoam-boks dan malah membantu ngambil sponsorship AWARDINGnya, "biar gayeng kata beliau". Kita kasih judul "SNKI Award", yang rencana sebelumnya sudah akan diambil oleh salah satu Bank.
Mudah-mudahan Sabtu besok Kanjeng Andi Ahmad bisa hadir, walau sebelumnya telah bertelpon dengan saya, namun menurut kuratornya… sedang ada tamu, padahal saya tahu beliau sangat ingin berkumpul dengan kita. Sesepuh Sulawesi pak Ubbe mudah-mudahan juga hadir lagi... ternyata beliau kawan lama saya di tahun 1995-an... saya lupa nama, jadi ketika jumpa langsung ngakak bersama… Mas Branko juga beberapa kali ikut rapat, namun akhir-akhir ini sangat sibuk, mudah-mudahan di hari Sabtu nanti mas Branko hadir juga... Mas Ferry Mangkoeredjo juga sibuk keluar negeri... tapi mudah-mudahan sebentar lagi nggabung lagi setelah KK. Carito Walik beres... sementara pak Stanley Hendrawidjaja mudah-mudahan mulai aktif... karena 'Team Buku' sudah mulai bekerja, dia duduk di Team Buku... Para Fund Raiser (penghimpun dana) juga sudah menyebar walau perlu dimaklumi kegiatan keris itu memang termarjinalkan/ terpinggirkan, masyarakat umum takut keris, maka jika kita kompak semuanya pasti kelakon, foto buku bukan tarip iklan tetapi sumbangsih, keliatannya mahal, tapi membantu acara keseluruhannya, apalagi dibandingkan dengan buku lukisan setiap pemasang lukisan kena 2,5jt lebih... kita harus punya ”mindset galeri” kata mas Pelukis Hardi. Bli Agung Waisnawa pasang foto 8... bagi saya ini kesadaran yang sangat luhur. Mas Moderator juga mengkordinir rekan-rekannya... ada acara FDK dan Facebookers yang saya taruh di hari Minggu... semoga gayeng, mas Abra, mas Teguh Santosa dan rekan lainnya di Jogya sudah mulai berperan... Dari Malaysia sudah banyak yang mendaftar antaranya Moh Saad Ramli, pak Haji Mohd. Noordin, Zarim bin Marjuki, beliau juga hadir berbondong-bondong 15 orang dari Malaysia sewaktu Pameran Keris Kamardikan Award ’08 di Bentara Budaya Jakarta, pak Zarim itu juga anggota Panji Nusantara KTA. No 246 (saya ingat lhoooo), DR. Alfi Ghani dari Malaysia orang muda dan tampan antusias dengan Keris For The World; CD foto koleksi sudah sampai di meja bagian artistik dan CD terus mengalir dari mereka... Dari kota kecil Sragen pun berpartisipasi lhooo, tokoh pengasuh pesantren Syifaun Qolby se Jateng, mas Mohammad Mulyani dan kawan-kawannya mengirim pula... dulu saya suka berdiskusi dengan beliau untuk mengetahui sisi pandang beliau. Dari Magelang malah sudah mentransfer donasinya... bravo buat paguyuban Satryatama. Pak Widhya Bagya yang cukup lama bersama komunitas keris dan pak Basyir M. Barmawi (mantan Dirjen Imigrasi) juga telah melibatkan diri membantu Keris For The World, for the next akan ikut menggiatkan pelestarian keris yang merupakan kecintaannya, beliau-beliau ini jenderal yang merakyat... Belum selesai hajatan ini pak Tosari Wijaya pun sudah nawari pameran/kegiatan perkerisan di Maroko...
Event keris yang visioner sedang kita bangun, tetapi kegiatan keris untuk mencari sponsor memang berbeda dengan ketika masa lalu saya bantu pegang ’Tour de Jawa’ (Balap Sepeda) yang paling tertama dulu... sukses dibawah sponsor Bodrex dan Hemaviton... cari duitnya gampang! Jadi untuk kegiatan Keris memang beda... maka pada Keris For The World, setidaknya kita punya massage yang arahnya merubah paradigma dan mindset umum agar keris tidak ditakuti... setan, jin, kodham ndak perlu dibicarakan dulu, kita sudah harus memulai kajian ilmiah keris. Jika ini berhasil merupakan babat alas perkerisan, yang nantinya bakal membawa berkah dan kemudahan bagi generasi selanjutnya. Keris tak lagi terpinggirkan...
Saya sangat memaklumi keterbatasan para Fund Raiser... mereka berjanji all out dan rupanya sudah ada hasilnya juga, salut untuk Fund Raiser; pokoknya jika semua kompak dan mau saling memberi masukan dan mau bekerja yang terutama mengeliminasi bad prejudice yang ada diantara sesama kawan perkerisan, juga mungkin terhadap diri saya, maka kita pasti buuuuaaaangkiiiit! Belum lagi dukungan dari Bali, pemahaman tentang keris memang seurat-nadi dengan adat dan agamanya... disana ada M Bakrin SH, Nyoman Pungkliek yang tulus... Juga tokoh-tokoh masyarakat dari papan atas, pak Puspayoga, pak Agung Ngurah dari Karangasem, Turah Jaka dari Jero Kuta dan banyak lagi penglingsir Puri, dan pula tokoh museum seperti Suteja Neka.... Saluuut untuk Bali.
Dan ini bukan kerja saya sendiri, mas Pelukis Hardi yang berhati keras namun sangat religius itu, sebagai inisyator dan pemikir memang dibutuhkan oleh komunitas perkerisan, agar keris diterima oleh masyarakat umum, sebagai heritage and Art, seiring dengan piagam UNESCO yang notabene dinilai oleh bangsa asing... Saya ingat ketika bertemu di Fadli Zon Library, beliau peka mengendus komunitas perkerisan; padahal baru bercinta dengan keris 3 bulanan, ”komunitas pekeris itu usreg sendiri dan tidak punya pandangan kedepan”, demikian Pelukis Hardi berujar. Harapan beliau adalah nanti para eksekutif baik itu yang tua atau muda, mahasiswa juga senang dengan keris, tak takut keris dan mulai mengkaji secara modern dan ilmiah. Saya pun berharap Keris For The World 2010, menjadi sebuah kebanggaan kita bersama, sebagai tonggak yang merupakan hajatan kawan-kawan komunitas keris, dipersembahkan untuk dunia... Ini hajatan negara...kata saya .....dan pula walau tampaknya lokal, tetapi untuk global... begitu ujar mas Pelukis Hardi.
Saya yakin semuanya punya andil besar. Termasuk forum yang ada (Forum Diskusi Keris Yahoo Grup dan Facebookers). Jadi monggo siapa pun dipersilahkan cancut taliwondo.... siapapun boleh!
Salam Budaya,
TJ
-Diambil cari Catatan TJ di Facebooks. |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
|
| 28 Mar 2010 08:15:59 am |
KERIS KARYA EMPU JAKA SURA |
|
|
Sebuah kisah legenda Jaka Sura mempengaruhi produksi keris pada masanya, hingga kini keris berbentuk lempengan tipis model karya empu Nyi Mbok Sombro dengan peksinya dibuat lubang masih memiliki market yang luas. Konon karena kisahnya adalah bahwa Jaka Sura mencari ayahnya sambil membawa beberapa keris yang direnteng untuk diberikan kepada warung yang disinggahinya untuk numpang makan, sebagai pembayaran.
Sebenarnya kisah ini sudah pasti memiliki bobot pengutaraan, bahwa keris ada harganya, serta ada sesuatu kekuatan yang tiada takarannya. Maka mereka yang menjamu Jaka Sura merasa dapat piyandel keris yang membawa rejeki. Sebuah kisah yang memanifestasikan tentang karma baik seseorang akan mendapat pahala.
Namun yang menjadi bias adalah, kisah ini ditelan mentah-mentah oleh masyarakatnya sehingga terjadi mistikisasi berlebihan. Ada kisahnya pasti muncul wujudnya pula. Tentu seperti di jaman modern... para pande cangkul pun melihat peluang pasar dari kisah ini.... jadilah produksi keris Joko Sura yang terus diproduksi hingga kini. Bahkan karena tipis terjadi lekukan tak rata saat menggemblengnya yang kemudian dibualkan seolah keris dibuat dengan dipijit-pijit dengan jari tangannya.
Dilemanya apa?
Pelestari keris sangat berterima kasih atas hal ini, secara pasti telah membuat keris terus eksis. Apalagi kita selalu dalam masyarakat yang tutur tinular, glenak-glenik, glembugan dan klenik....
Dilain pihak... ada pandangan yang menganggap hal itulah adalah sumber musryik dan syirik, apalagi jika dengan perlakuan yang disaji bunga, bahkan disembah-sembah... Sehingga keris juga terpinggirkan oleh masyarakat. Bahkan ditakuti jika ada jin setan dan sebangsanya, lalu dilarung dan dicerca....
Padahal "keris" dipuji UNESCO diberi penghargaan cumlaude sebagai warisan budaya dunia. Keris sebagai heritage memang dibungkus oleh berbagai aspek, dan inilah yang harus kita terjemahkan secara rasional, bahwa notasi yang ada harus dikaji secara lebih ilmiah, tentu tak lepas dengan keterkaitan etnologinya...
Beberapa catatan menyimpulkan bahwa Jaka Sura bukan empu picisan, karyanya bagus dan estetik dengan garap yang sempurna, saya sering menduga dan mengkaitkan performa gaya keris Jaka Sura menjadi acuan untuk jaman berikutnya yaitu gaya Mataram. Patron karya Jaka Sura ini jelas ada pada Mataram Sultan Agungan hanya ukurannya lebih corok. (tj)
Kanan adalah karya empu Jaka Sura (dengan kekancingan keraton) dan kiri karya Jaka Sura produk legenda.
Berikut salah satu catatan yang mendukung bahwa empu Jaka Sura memang empu pinunjul dirupakan dalam bentuk sekar Sinom sbb.:
Jaka Sura dennya karya/Tosan pirang-pirang dhacin/Den kepel dadya satunggal/Sawusira dadi siji/Kinarya tanpa keni/Dhapur lameng kirang patut/Nanging sepuhe dilat/Tan lami tumuli dadi/Sampun kunjuk marang Sang Sri Brawijaya.
Wus dadi denira karya/Ingaturaken pribadi/Prapteng nagri Majalengka/Kendel paregolan Njawi/Yun nlebet den adhangi/Dening Wadya kang atungguk/Langkung kaku ing manah/Jaka Sura nulya bali/Lamengipun tinilar lawang gapura.
Kang caos munjuk Sang Nata/Lamun abdi dalem alit/Pangeran Sedayu putra/Yun marak amba pambengi/Gya wangsul wonten kori/Pedhange tinilar kantun/Sang Prabu Majalengka/Kagyat nulya anedhaki/Niti priksa kang tinilar Jaka Sura.
Gaweyane Jaka Sura/Apa pasah pada wesi/Jinajal mring wesi lawang/Tugel tan kongsi mindhoni/Eram ingkang ningali/Jaka Sura karyanipun/Landhep ampuh kalintang/Pedhang iki Sun paringi/Aranira si Lawang iku prayoga.
Kurang lebih terjemahannya adalah sbb:
Karya Jaka Sura, terbuat dari besi beberapa dachin (1 dachin = 100 kati = 61,761 kg) ditempa menjadi satu. Tempaannya matang tanpa celah dan sambungan. Jadilah sebuah pedang berdapur Lameng, meskipun kurang luwes bentuknya namun disepuh Dilat (sepuh “dilat” bukan berarti disepuh dengan menggunakan lidah. Dilat berarti menyala; Jawa: Murub), hal tersebut merupakan metode penyepuhan “sempurna” yaitu pendinginan mendadak ke air saat besi menyala pijar dari perapian - hanya besi dan tempa bermutu tinggi yang mampu disepuh demikian. Setelah jadi, kemudian datang menghadap Sang Sri Brawijaya.
Namun apa lacur, sesampai pintu gerbang Kraton Majapahit, dihalang – halangi oleh prajurit penjaga. Meskipun Jaka Sura telah menyampaikan identitasnya, tetap saja prajurit tak percaya. Hal tersebut membuat hati Jaka Sura jengkel, kemudian meninggalkan gerbang (pada referensi lainnya : dikatakan Jaka Sura kemudian “tapa pepe” yaitu duduk berdiam di tenggah Alun-alun). Pedhang buatannya, ditinggalkan di pintu gerbang.
Prajurit menghadap Prabu Brawijaya, ia mengatakan ada rakyat jelata ingin menghadap dan mengaku-aku putra dari Pangeran Sedayu. Prajurit terpaksa menghalang-halanginya. Segera Prabu Brawijaya, pergi ke pintu gerbang, ingin tahu siapa gerangan. Sang Prabu terkejut, melihat ada pedang tertinggal, kemudian memeriksa dengan teliti pedang yang ditinggalkan Jaka Sura.
Prabu Brawijaya penasaran, mengenai kehebatan pedang buatan Jaka Sura, apakah sanggup memotong besi. Kemudian dicobakan pada besi pintu gerbang, sekali tebas langsung putus, tanpa diulang untuk kedua kalinya. Membuat ngeri setiap orang yang melihat. Buatan Jaka Sura, tajam dan tangguh tak terkira. Kemudian oleh Sri Brawijaya pedang buatan Jaka Sura diberi nama Si (kyai) Lawang.
(Tembang Sinom dikutip dari catatan MM. Hidayat dalam Facebook).
- |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
|
| 24 Mar 2010 08:16:54 am |
PURI AGENG KLUNGKUNG MELESTARIKAN KERIS KAMARDIKAN |
|
|
24 Februari 2010 jam 22:24 | Sunting Catatan Face Bookers
Denpasar yang cerah, membawa sebuah perjalanan baru. Bersama berbagai tokoh masyarakat, seorang pande menjadi sebuah kelangsungan bagi sebuah identitas baru bagi suatu adat perkerisan.
Banyak orang tak sadar akan hal ini, tetapi tokoh-tokoh Bali seperti Drs. A.A. Ngurah Puspayoga MBA (Wagub); AA. Agung Ngurah Agung SH.MM penglingsir Puri Gde Karangasem, Ir Tjokorde Gde Agung Smaraputra penglingsir Puri Ageng Klungkung, tokoh masyarakat I Nyoman Gde Sudiantara dengan panggilan akrab Punglik...bahkan tokoh Puri Jero Kuta seperti A.A. Ngurah Djaka Jaya... Serta Tjokorda Pradnyana, M.. Bakrin SH...sangat jeli melihat sebuah kenyataan untuk masa depan per’pande’an keris di Bali...
Prosesi penyerahan keris Sabuk Tali sebagai pengikat masyarakatnya pada adat dan budaya Bali dilakukan di Puri Ageng Klungkung.
Keris tersebut karya pande muda Made Suardika atau dipanggil De Pande dari Prapen di Jl. Kenyeri – Denpasar yang diselesaikan hampir 2 bulan.
Upacara ”pamelaspas alit” dilakukan sebagai sebuah syukur telah mewujudnya sebilah keris. Setelah ini, dalam waktu dekat bersamaan upacara ”tumpak landep”, keris akan di ”pasupati”.
Pelestarian keris telah menjamah tradisi yang pakem di Bali... tampaknya kebangkitan empu keris telah mulai terlengkapi dengan adanya upacara yang hampir berlangsung 4 jam.... Di dalam sebuah Puri Ageng Klungkung dengan sangat khidmat dan sakral, menjadikan kita yang mulai lagi terjamah oleh aura kedewaan (rohani), kembali seperti merasakan hembusan angin renaissance.
Kegiatan ini merupakan sebuah dorongan bagi perkerisan, baik mereka yang fanatis pada keris sepuh, maupun yang memiliki cakrawala pandang modern, kita yang hadir; saat hening itu seolah telah dikembalikan dalam rotasi kalacakra, dimana berabad yang lalu seperti kita berada disaat ini. Keberadaan kita saat ini seperti berada pada saat lalu.
Sequential.... jika kita menghayati secara holistik maka tak lagi ada dikotomi antara keris tua dan keris kamardikan selama perlakuan traditifnya sama. Bahwa beberapa keris sepuh yang menjadi pusaka dianggap lebih ampuh, bisa dimaklumi karena selain pada masa pembuatannya telah melampaui putaran kala, dan diupacarai tak terhitung lagi... Keris sepuh juga telah turun-temurun dengan aura mantera yang menjadi kuat berurutan dari pandita satu dengan pandita generasi berikutnya.
Mantera yang merupakan seruan sanubari itu telah menjadi sebuah konvensi manusia dengan alam, menebarkan kekuatan semestawi menjadi sebuah manifestasi berkah, ketenteraman dan kesejahteraan.
Kita sering lalai, bahwa dimana kita berpijak bumi diatas kita berpayung angkasa......
- |
|
| |
Category : Album
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 2 Next |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |