Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
07 Oct 2009   07:40:11 am
KAMARDIKAN PROGRESIF
Abstrak
I-E-O adalah sebuah konsep senirupa yang lekat dengan sebuah proses penciptaan menuju kelengkapan sebagai karya “berbobot”. I-E-O pada keris bisa diartikan sebagai pemenuhan ekspresi Intelektual, Estetika dan Orisinalitas ide pada sebuah karya keris.
Intelektual menyangkut latar belakang kultural, komunikasi, kritikal maupun penalaran. Dikemas dalam estetika perkerisan, sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.


Kanjeng Kyahi Gelombang Cinta karya modern empu Sukamdi

Intelektual
Seorang intelektual (dari kata sifat yang berarti "yang melibatkan pemikiran dan alasan") adalah orang yang menggunakan kecerdasan dan analisis berpikir (Samuel Coleridge), dalam profesinya.
"Intelektual" dapat digunakan untuk arti luas, termasuk dalam tiga klasifikasi kegiatan manusia:
1. Individu yang terlibat secara mendalam dalam abstraksi ide dan teori.
2. Profesi yang hanya melibatkan sosialisasi dalam bentuk produksi ide, yang berbeda dengan pelaksana atau pelayanan dalam sebuah pekerjaan.
3. Setiap keahlian yang melatari kegiatan budaya dan seni, keahlian seseorang yang memungkinkan melahirkan otoritas budaya, yang kemudian mereka publikasikan di depan umum tentang hal-hal berbeda dari biasanya.

Istilah "intelektual" sering untuk menyampaikan gagasan umum yang sifatnya edukatif dan kreatif. Pendapat dalam buku The Evolution of an Intelektual (1920) tulisan John Middleton Murry, mengatakan adanya konotasi umum bahwa perilaku 'intelek' selalu diterapkan pada cabang-cabang kesenian seperti dalam kegiatan sastra.


Konfigurasi abstrak dari keris brojoguno empu Brojoguno I, koleksi: KRAT. Sani Gondo Adiningrat

Estetika
Estetika secara sederhana adalah ilmu yang membahas 'keindahan', bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Lebih lanjut mengenai estetika adalah pendalaman dari sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan falsafah seni.

Sedangkan interpretasi terhadap ”Seni” menurut Leo Tolstoy adalah suatu estetika yang dipengaruhi oleh adanya intelektual dan pengalaman (experience). Artinya jika dikaitkan dengan interpretasi seni dalam perkerisan, apa yang disebut ‘estetika keris’ sudah tentu melibatkan pengalaman (atau wawasan) pada penghayatannya terhadap nilai keris. Seperti pakem (pedoman pokok) Yo Mor Jo Si Ngun misalnya; kita dapat menangkap maksud kata-kata itu yakni Guwoyo Pamor, Wojo, Besi, Wangun yang bagus, namun jika diperdalam lagi aspek Yo atau Guwoyo dari Yo Mor Jo Si Ngun yang bagaimana yang dianggap bagus, tentu ada pendalaman pada obyek tersebut. Begitu pula Mor atau Pamor yang bagaimana yang dianggap baik, Jo atau Wojo yang dianggap baik dan terutama garap atau Wangun pada Ngun sangat berkait dengan harmonisasi, maka untuk menjadi “mengerti keris” dibutuhkan pengalaman analisis yang melatari wawasannya.
Masalah ini memang subyektif tetapi jika pemahamannya tepat, maka nilai-nilai itu ternyata universal, dapat dipertanggung jawabkan secara umum, dan bukan ‘tik gotak gatik gatuk’ (dicari-cari dan dihubung-hubungkan; bhs. Jw).

Estetika berasal dari Bahasa Yunani, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.

Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
1. Studi mengenai fenomena estetika.
2. Studi mengenai fenomena persepsi.
3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis.

Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam bentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi pernilaian terhadap keindahan. Misalnya dalam sejarah seni pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah ke’agungan’. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya (menuruti realitas visual yang ada). Pada masa modern, maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksi benda (dalam senirupa). Pada sekitar abad 19 inilah munculnya aliran seni lukis abstrak.

Perkembangan selanjutnya menyadarkan kita bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide dan gagasan yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah, selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar. Serta the ugly adalah suatu karya yang memang tidak dianggap memiliki standar secara umum, justru menampilkan keburukan, seronok namun kenyataannya itu merupakan sebuah ekspresi dari realita yang ada.

Orisinalitas Ide
Jika aliran abstrak (de Stijle di Belanda) dan pada umumnya senirupa abstrak di barat dimulai abad 19-an, sebenarnya di Nusantara, beratus-ratus tahun bahkan beribu tahun yang lalu telah dilakukan penciptaan karya abstrak. Contohnya dalam kesenian wayang, arsitektur dan juga perkerisan.

Kenapa?

Keris Singosari dengan estetika modern koleksi Hengky Joyopurnomo
dengan mahar yang sulit dinilai lagi karena kelangkaan dan keutuhannya.


Kepercayaan maguru alam (berguru pada alam), merupakan budaya spiritual yang mengisi kegiatan utama yang lekat dengan kehidupan sehari-hari pada masyarakat agraris di Nusantara ini. Maka dalam seni perkerisan tak akan lepas istilah-istilah penyampaian sebagai ‘tranformasi ide’ dari apa yang dihayatinya terhadap alam dan kehidupan. Istilah seperti menyebutkan bentuk keris disebut “dhapur” adalah sebuah metafora kata dari bahasa Jawa menyebut wajah, bentuk atau rupa, dan istilah “pamor” merupakan sebuah pergeseran asal kata dari ‘dimor’ atau dicampurkan (layer-layer berbahan nikel ditumpuk disatukan dengan besi) menjadi kata "pamor".

Kondisi berkesenian seperti di Jawa ini tidak pernah memenuhi golongan ‘romantisme’ Perancis maupun ‘realisme’ Yunani. Ia telah tampil sebagai elemen fundamental dalam ekspresinya berupa ricikan (bagian-bagian keris) atau motif pamor yang selalu simbolis yang diabstraksikan dari alam oleh empu-empu kita. Selanjutnya keris tetap bergaul dengan istilah-istilah yang berkaitan dengan simbolisme alam dan kehidupan. Seperti istilah pamor wos wutah (beras berlimpah bertumpahan atau luber), kenanga ginubah, pari sakwuli, udanmas, blarak sinered, ron genduru, dlsb. Pamor-pamor itu ditata dalam sebidang kecil bilah keris dengan konfigurasi visual yang bermaksud mengabstraksi obyek alam yang terlibat dalam kesehariannya. Empu-empu kita telah lama berhasil mengutarakan sebuah basic kultural yang hingga kini menjadi ciri dan merupakan suatu nilai, yaitu berdaulatnya budaya spiritual maguru alam yang dituangkan pada keris dengan abstraksi penghayatan terhadap alam.

Kemudian dhapur dan motif pamor keris diputrani (diduplikasi) terus menerus dan tak lekang oleh jaman. Lebih dari 140 bentuk master (dhapur babon/pancer) yang berbobot I-E-O (intelektual-Estetik-Orisinal) dan pula ratusan motif (konfigurasi) pamor, yang sebenarnya merupakan seni abstrak dalam nilai senirupa.

Keris Kamardikan kontemporer
Keris (tangguh tua) pada waktu itu sudah mengalami prosesi ‘intelektualism’, ‘estetik’ dan ‘orisinalitas ide’, seperti pada penciptaan awal pada dhapur babon/pancer dan jenis-jenis pamornya. Maka, bukanlah hal yang mengada-ada jika keris Kamardikan akan memenuhi prosesi tersebut dengan latar kultural modern sebagai ekspresi para seniman keris, bahkan mungkin berbicara hingga pada tataran kritik sosial politik.

Jika ada ruang publik yang tersedia untuk kawula perkerisan, maka ajang yang perlu digelar adalah dengan konsep keris Kamardikan kontemporer yang memenuhi bobot I-E-O. Sebagai implementasi pelestarian menuju nilai ’universal’ sebuah karya seni (keris) untuk tidak hanya dikhusyuki oleh komunitas yang kecil terbatas, melainkan dapat dinikmati oleh banyak orang. Maka pada perilaku penghayatan maguru alam dan kehidupan, serta perenungan religius keris otomatis akan mendudukkan kembali kepada pesan spiritual yang esensial dalam dunia modern sebagai manusia modern. Bukan keris dalam kungkungan “klenik” dan gaib yang sensasional.

‘Keris’ pada saatnya, dapat berbicara kepada awam baik melalui 'rupa' maupun kedalaman konsepnya (bukan tuahnya) tanpa pengetahuan yang terlalu ekslusif.

Marilah kembali, kita coba menelaah apa yang dimaksud dengan keris Kamardikan sebagai sebuah aktifitas pelestarian.

Keris Kamardikan adalah istilah. Kamardikan berasal dari kata Mahardika yang artinya merdeka. Jika keris umumnya selalu lekat dengan atribut jaman pembuatan yang sering disebut ‘tangguh’, dan terkait pula dengan gaya keris yang memiliki kekhasannya dari setiap kerajaan. Keris Kamardikan memiliki dua makna, pertama, yaitu adalah keris-keris yang dibuat pada jaman setelah Indonesia merdeka, dimana kerajaan-kerajaan menyatu dalam Republik. Makna yang kedua adalah kemerdekaan pada keris-keris yang diciptakan berdasarkan konsep-konsep baru yang bebas. ( kutipan Katalog Pameran Kamardikan Award 2008 ).

Prosesi ‘intelektualism’, estetika dan orisinalitas ide dalam karya ‘keris’ (yang bukan mutrani) adalah kebutuhan seniman keris pada saatnya nanti, serta membawa keris Kamardikan berbobot dan yang dapat diterima umum serta sanggup menjadi ‘masterpiece’ atau ‘mahakarya’ dikemudian hari.

(Toni Junus; sebuah perenungan).
Dikutip dari PAMOR 11.

Kepustakaan :
1. Agus Sachari; 2002, Estetika, Penerbit ITB
2. AM. Jelantik; 1987, Pengantar dasar ilmu estetika, Akademi Seni Tari Indonesia
3. Bender, T., (1993), Intellect and Public Life, The John Hopkins University Press.
4. Macmillan; 1911, The Intellectual Life, Norwegian Press Ltd.
5. Modern Art and Modernism: A Critical Anthology. ed. Francis Frascina and Charles Harrison, 1982.
6. Robertson, Jean and Craig McDaniel: Themes of Contemporary Art, Visual Art after 1980, page 16. Oxford University Press, 2005.
7. Bincang-bincang dengan DR. Dharsono M.Sn.
Category : Kerisologi | Posted By : administrator

02 Oct 2009   07:45:57 am
Keris & Tantangan Para Pelestari Blambangan
Blambangan
- Sejak kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1527, Blambangan berdiri sendiri, namun dalam kurun waktu dua abad lebih (antara tahun 1546-1764) menjadi rebutan kerajaan di sekitarnya.

- Antara lain kerajaan Demak dan Mataram di Jawa Tengah, juga kerajaan di Bali (Gelgel, Buleleng dan kemudian Kerajaan Mengwi) bergantian menyerang Blambangan dalam kurun dua abad itu.

- Selama 42 tahun (1655 sampai 1697) terjadi 4 kali pemberontakan, dan 4 kali perpindahan ibukota. Kedudukan istana di Kedawung dipindahkan ke Bayu (1655), kemudian ke Macanputih dan akhirnya ke Kutalateng.

- Selanjutnya perang yang berkepanjangan mengakibatkan istana pindah lagi ke Ulupampang, dan akhirnya ke Banyuwangi pada tahun 1774.

Blambangan dalam kerahasiaan
- Blambangan mentorehkan gejolak politik yang sangat ruwet dan tidak memiliki peninggalan-peninggalan penting yang dapat menyingkap kesejarahannya.

- Tulisan-tulisan tentang Blambangan tercampur aduk dengan "mitos" dan legenda, fakta sejarah sangat sulit dirangkai. Padahal Blambangan sejak lama mendapat perhatian penulis asing. Brandes menulis dalam tinjauan filologi pada 1894, Pigeaud pada tahun 1932. Ann Kumar pada 1979, Winarsih Arifin pada tahun 1980, dan Darusuprapto menulis 1984. Semuanya tidak berani masuk dalam tulisan sejarah.

Tahun 1927, J.W. de Stoppelaar berhasil menyelesaikan tulisannya, namun dalam bidang hukum adat.

Kemudian Atmosoedirdjo menulis kajiannya dalam bidang yang sama pula (hukum Adat) tahun 1932.

Hasil kajian mengenai Blambangan dengan demikian terbatas pada dua bidang ilmu, yaitu Filologi dan Hukum Adat. Keduanya di luar bidang Ilmu Sejarah.

Tahun 1923 ada penulis C. Lekkerkerker (nama samaran) memberanikan menuliskan sejarah Blambangan.

Blambangan sebagai daerah otonom
Bukti autentiknya adalah Prasasti Gunung Butak 1294 M, menyebutkan perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam mendirikan kerajaan Majapahit bahwa "pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian".
Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan dan Tigang Juru yang semua itu menjadi wilayah yang dikenal dengan Blambangan. Arya Wiraraja sebagai adipati pertama. (C. Lekkerkerker, 1923:220).

- 16 tahun Arya Wiraraja memerintah Blambangan kemudian digantikan oleh Arya Nambi (1311-1331 M); di Majapahit, juga terjadi pergantian kekuasaan Raden Wijaya kepada anaknya, Jayanegara.

- Jayanegara, tidak seperti ayahnya, ia melakukan penindasan dan menyengsarakan rakyat.

- Oleh karena itu 1316 M, Arya Nambi menyerang Jayanegara, serentetan peristiwa yang kemudian berulang terus menerus menjadi pertarungan antara penguasa pusat dan penguasa Blambangan.

- Hubungan Blambangan-Majapahit keruh ketika Bhre Wirabumi, anak Hayam Wuruk dari selir, bertahta di Blambangan (1364-1406 M) menentang pusat, perang Paregreg meletus. Namun Bhre Wirabhumi terbunuh pada 1328 Saka (1406 M) oleh prajurit pusat pimpinan Wikramawardhana.

Blambangan dan pengaruh luar
- Haagerdal (1995:106-107) dan Beatty (2001:17) menyebut bahwa Blambangan menjadi tempat pengungsian bangsawan dan cendekiawan Majapahit yang melarikan diri karena Majapahit juga semakin tak menentu, mereka mendekati Bali untuk membangun aliansi.

Pengaruh budaya Mataram Islam
- Pada tahun 1639 M, Mataram di Jawa Tengah berhasil menaklukkan Blambangan; rakyat Blambangan banyak yang terbunuh dan dibuang. (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75).

- Dibawah kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai masuk Islam, namun tidak terjadi pergeseran struktur sosial dan kebudayaan, oleh karena kuatnya adat Blambangan (suku/wong Using) yang terus dipertahankan.

Keris Blambangan dan pengaruh jamannya
Keris Blambangan mengalami tiga (pengaruh) jamannya :
- Keris Blambangan dalam pengaruh Majapahit.

- Keris Blambangan dalam pengaruh Mataram dan Madura, karena Blambangan saling membahu dengan Madura dimana merasa sehati dalam pemberontakan Trunojojo (melawan Amangkurat).

- Keris Blambangan dalam pengaruh Bali, ketika jaman keemasan Dalem Waturenggong yang makmur, dan kerajaan Gelgel meluas ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang seni dan kesusastraan mencapai puncak keemasan.

Adanya indikasi terpengaruh Bali
Pada saat Dalem Ngulesir menjadi raja, pusat pemerintahan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel (Sweca Pura).
Dalem Ketut Semara Kepakisan pada tahun Saka 1305 (1383 M) adalah satu-satunya raja dari Dinasti Kepakisan yang sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit. Beliau mendapat hadiah keris Ki Durga Dungkul (wilut), Ki Bengawan Canggu kemudian Ki Sudamala keris ini masih disimpan di Puri Karang Asem berbentuk relief berserat sanak.
Dalem Ketut Semara Kepakisan dalam perjalanannya singgah lama di Blambangan sebelum kembali.

Keris Blambangan dan ciri-cirinya
Menurut buku kuno : Gonjo sebit rontal; gandik agak pendek dan miring (doyong); Sogokan pendek dangkal (cekak); Luwes walau tidak rengkol luknya.

Analisa dari realita sejarah:
1. Keris Blambangan era Majapahit, Tidak berbeda jauh dengan tangguh Majapahit, empu yang tercatat a.n: empu Bramakedali, Kekep, Luwuk, Kebolungan, Ki Pitrang/Rambang dan Jaka Sura (anak Pitrang). Ada catatan bahwa karya empu Pitrang paling tersohor, biasanya bilahnya gilig (wuwung), pamornya nyekrak (miring) dan bentuknya luwes, luknya rengkol sedang.


Gonjo Sebit Rontal Gandik Pendek Miring


Karya Pitrang/Ki Rambang atau Supa Mandrangi - Pangeran Sedayu


Gandiknya miring, bilah wuwung (gilig)


Kembang kacang nggantung Lambe gajah diatas tidak landai


2. Era keris Blambangan dalam pengaruh Mataram dan Madura. Ciri-cirinya jika memakai sogokan agak lurus dan dangkal, luk pertama tinggi, sering luknya datar. Besi dan pamornya menyerupai bahan besi keris Tuban, grenengnya seperti keris Madura, secara keseluruhan seperti Mataram, mungkin keris Blambangan menjadi patron keris Mataram, atau sebaliknya, bedanya pada ukuran bilahnya lebih panjang (corok). Jika bergandik naga, biasanya naga primitif.


Lihat rancang bangun Keris Madura dan keris karya Jaka Sura

3. Era keris Blambangan dalam pengaruh keris Bali. Ciri-cirinya mirip keris Bali, namun bahan besi dan pamornya seperti bahan keris Jawa dan penampilannya tidak licin seperti keris Bali. Pamornya mirip bahan pamor tangguh Tuban, grenengnya seperti greneng Majapahit, namun rincikan lain seperti kembang kacang dan lambe gajah seperti ciri keris Bali.


Pengaruh Bali - besi mirip bahan keris Tuban

Akan kemanakah keris kamardikan gaya Blambangan?
Para pelestari keris sering ingin mencari gaya spesifik kedaerahannya, namun keris tangguh Blambangan berdiri dalam berbagai pengaruh kekuasaan masa itu. Hal ini menjadi tantangan bagi pelestariannya.

Namun ada hal yang perlu dipertimbangkan pula adalah bahwa keris dalam kenyataannya memiliki nilai non-bendawi yang harus diperhatikan dan dilestarikan.

Selain menciptakan keris unggul dalam segi bentuknya, sebagai artefak budaya perlu dipahami adanya 7 (tujuh) aspek nilai non-bendawi keris yang harus dilestarikan :

1. Kesejarahan; 2. Fungsi Sosial; 3. Tradisi; 4. Filosofi; 5. Mistik/magis; 6. Seni/kesenirupaan; 7. Teknologi

Aspek Kesejarahan
Secara ilmiah, keris selalu berkaitan dengan artefak budaya seperti relief pada candi, misal candi Sukuh, Penataran, Borobudur dll,
Kata kris telah tertulis dalam Prasasti Rukam, Prasasti Dakuwu dll,
Keris ditemui dalam buku sejarah, BABAD, kisah-kisah Legenda, buku-buku Padhuwungan dll.

Sudut pandang pelestarian keris kamardikan dapat mencari sumber dari aspek kesejarahannya.

Aspek Fungsi Sosial
Awalnya sebagai senjata tikam, untuk perang campuh satu lawan satu.
Bergeser menjadi jimat/piyandel/pusaka yang menjadi keyakinan.
Karena campur tangan raja (kekuasaan), keris berfungsi sebagai penanda status sosial, kepangkatan, penggolongan profesi dll.
Keris sebagai pelengkap busana.
Cinderamata persahabatan antar kerajaan.

Keris Kamardikan perlu dicari kemanfaatannya pula.


Relief di Candi Panataran (1347 SM) - dulu keris sebagai senjata tikam.


Sekarang sebagai pelengkap busana, keris semakin dibutuhkan oleh karena kesadaran terhadap budaya dan jati diri bangsa.

Aspek Tradisi
Adanya tradisi pemberian keris kepada menantu lelaki yang disebut “kancing gelung”.
Sebagai legitimasi estafet pelimpahan kekuasaan. (Misal keris Kyai Joko Piturun, Kyai Plered di keraton MATARAM).
Tradisi menjamas pusaka di bulan Suro atau Maulud dan kirab pusaka.
Tradisi membangkitkan kembali kekuatan (tuah) keris seperti upacara ‘Sidhikara Pusaka’ dan Pasupati/Tumpak landep (di Bali).

Perlunya melestarikan tradisi perkerisan dalam memberi bobot budaya pada keris kamardikan.


Upacara Pasopati/Tumpek Landep 2007 di Bali

Aspek Filosofi
Adanya ungkapan : “curigo manjing warangka, warangka manjing curigo”, filosofi menunggaling kawula Gusti.
Makna bentuk bilah (dapur) dan makna motif pamor sebagai pengharapan dapat tercapainya suatu tujuan.
Adanya penandaan dari empu untuk menuangkan pesan tertentu (semiotik).

Keris kamardikan harus memiliki konsep dan filosofi yang argumentatif.


Motif Pamor memiliki makna sebagai pengharapan dapat tercapainya suatu tujuan.

Aspek Mistik/Magis
Karena kekaguman manusia saat itu, terhadap penemuan teknologi besi yang dianggap sebagai ‘inspirasi dewa’ dan prosesi pembuatan dengan diiringi upacara–upacara.
Pengagungan terhadap profesi para empu (panday wsi) berlanjut karena para Ksatrya dan Raja membutuhkan senjata ampuh, dan para empu dianggap sakti.
Pengagungan ini melahirkan budaya spiritual ketika peristiwa-peristiwa gaib bersentuhan dalam masyarakatnya.

Proses penciptaan keris kamardikan
perlu adanya ritual atau penyertaan do’a yang bertujuan untuk kebaikan manusia.

Aspek Seni/Kesenirupaan
Bentuk keris yang a-simetri dan unik, tiada duanya di dunia.
Nilai harmoni yang sanggup dimuati oleh “kebutuhan teknomik”, keris dibuat condong dan berluk untuk memaksimalkan fungsinya sebagai senjata tikam.
Keris merupakan media ekspresi yang dituangkan dalam bentuk bilah (dapur), motif-motif pamor, rancang bangun dan variasinya, serta kelengkapan sarung dan asesorinya sebagai media seni.

Seni keris kamardikan harus kreatif untuk konteks kontemporer, dan harus tepat pakem jika dalam konteks konvensional (mutrani keris tangguh tua).


Dhapur keris merupakan media ekspresi yang dapat dituangkan dalam bentuk-bentuk bilah (dapur).

Aspek Teknologi
Terdapat banyak hal yang menjadi kekaguman para peneliti asing, misalnya :
- Pengadaan material (bahan dari meteor jatuh).
- Teknik tempa penyatuan logam heterogen secara hand-made yang merupakan metallurgy kuno sebagai unggulan yang tiada duanya.
- Teknologi kuno ’pengerasan’ (karburasi/nyepuh) besi low carbon menjadi high carbon yang keras/tajam tampaknya memiliki kekayaan variasi teknik dan rahasia yang belum diketahui secara teknologi modern. (Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno - ITB).

Perlu pengadaan material bermutu, serta penjiwaan yang dalam dan sakral, walau telah menggunakan modernisasi peralatan.

Dengan semangat membara, tulus dan sadar budaya. Pelestarian akan berlanjut hingga anak cucu kita, keris sebagai warisan budaya adiluhung bangsa Nusantara, tidak lagi dikawatirkan punah.
Terima kasih kepada teman-teman yang koleksi kerisnya terpampang disini, etikad pembuatan makalah ini adalah untuk sebuah kemanfaatan bersama.

Referensi:
Beatty, Andrew. 2001. Variasi Agama di Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. Jakarta: Murai Kencana.
Brandes, J. 1920. Verslag Over Een Babad Blambangan. TBG:XXXVI.
Darusuprapta, 1984. Babad Blambangan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Epp. F. 1849. Banjoewangi. TNI I.ii: 242-246
DR. Dharsono, MSn; KERIS NUSANTARA Revitalisasi melalui upaya konservasi; 1926 thesis.
Groneman, J. DR. (1910). Wet er van de Pamor Smeedkunts worden zal (The condition of pamor art in the future), Semarang: Harian De Lokomotif, 19 July.
Harsrinuksmo, Bambang (tth), Katurangganing Dhuwung-dhuwung, Surakarta: Mangkunegaran Library H 124 & H 125.
Haryono Haryoguritno; Keris Sebagai Warisan Budaya Dunia; Puri Wiji thesis, December 2007.
Lekkerkerker. 1926. Banyuwangi 1880-1910. Indische Gids.
Raharjo, Sunaryo. (1977). Andalan Bab Pusoko Tosan Aji. Surakarta: Mangkunegaran Library H 128.
Stoppelaar, J.W. 1927. Blambangan Adatrecht. Wageningen: H. Veenman & Zonen.
Worsley, P.J. 1972. Babad Buleleng: A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague: KITLV-BI No.8.
Wikipedia; Sites on internet, oral sources.
Category : Kajian | Posted By : administrator

 
1
Sep 2009 October 2009 Nov 2009
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Categories
Album[37]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[12]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
KANJENG KYAHI PAKSINEBAR
MENGGELORAKAN KERIS DENGAN CARA LAIN
KANJENG KYAI SABDO PALON MENUNGGU JAMAN
KERIS JAMAN PAKU BUWANA
PERLU LOKAKARYA
MENANGGUH KERIS NOMNOMAN PB
Setelah PENOKOHAN, kini HARI KERIS dan MONUMEN KERIS
SECARIK CATATAN BPH SUMODININGRAT
TAFSIR KERIS -dibedah buku....
WAYANG ........SUMMIT.
FESTIVAL KERIS KAMARDIKAN
Archives
January 2013[3]
July 2011[1]
April 2011[7]
August 2010[6]
June 2010[9]
May 2010[10]
March 2010[10]
February 2010[8]
December 2009[3]
November 2009[11]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[80]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter