|
 |
 |
Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.
Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.
Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.
Salam Budaya,

[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W
|
|
BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI
|
|
JavaKeris.com
terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk
melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin
berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa,
atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung
yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
|
|
|
|
| 31 Dec 2009 09:42:12 am |
Keris Luk 9 Dhapur Kidang Mas |
|
|
"Sawijining kewan alasan memper wedhus, nanging ulese mrusuh kuning ngemu giring arane kidang kencana. Aja dumeh kidang, nanging beda lan kidang liyane, dheweke duwe prabawa kang gedhe, nganti gawe kepencute sapa kang wuninga. Mungguh sapa sejatine kang memba-memba dad...i kidang iki, ora liya abdi kinasih, hiya pothete negara Ngalengka, kang ora ana liya kajaba Ditya Kala Marica saperlu nggora godha Dèwi Sinta. Sang Dewi kapilu marang kaéndahané kidang Kencana nganti lali purwa duksina manawa teteluné lagi ana madyaning alas kang gawat kaliwat. Kidang musna lan Sang Dèwi aminta ingkang raka Prabu Rama supaya arsa ambujung nganti kacandhak arsa kanggo klangenan.........".
Kutipan di atas adalah penggalan dari epos Ramayana. Cerita ini memiliki latar waktu di zaman dahulu serta berlatar tempat di negri Mantili, Kerajaan Alengka, Hutan Dandaka, Gua Kiskendo dan Taman Argasoka. Cerita ini memiliki alur maju. Bagian dari sinopsis cerita adalah ketika Rama Wijaya, Shinta, dan Leksmana sedang bertualang ke hutan Dandaka. Rahwana sebagai Raja Alengka melihat Dewi Shinta dan ingin memperistrinya. Maka Rahwana menyuruh seorang raksaksa bernama Ditya Kala Marica untuk mengubah dirinya menjadi Kijang Kencana yang berarti Kijang Mas (Kidang Mas). Shinta yang terpesona melihat Kidang Mas tersebut menyuruh Rama menangkapnya. Lalu Rama pergi mengejar kijang itu. Setelah menunggu lama, Shinta merasa khawatir dan menyuruh Leksmana untuk menyusul Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran magis sebagai berlindungan bagi Shinta. Dengan lingkaran itu, Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya.
Kidang Mas atau Kidang Kencana, dalam kaweruh padhuwungan atau pengetahuan tentang keris, Kidang Mas diwujudkan dalam sebuah bentuk keris berluk 9 dengan ricikan gandik polos, memiliki pijetan, tikel alis serta greneng. Tanpa memiliki ada-ada ataupun kembang kacang dan jenggot. Dengan gandik lugas, seakan keris ini menjadi sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan itu, Kidang Mas sering menampilkan daya tarik tersendiri. Semakin dalam kita mengamati keris dapur Kidang Mas, maka semakin terlihat keindahan dibalik kesederhanaan itu. Demikian pula jika kita cermati, mencari keris berluk tanpa kembang kacang tetapi tetap terkesan indah dan luwes sesungguhnya juga tidaklah mudah seperti yang kita sangkakan. Tanpa Kembang Kacang, luk keris dari tarikan awal haruslah benar2 pas sesuai petungnya. Secuil paparan di atas hanyalah sekilas tentang keindahan keris dapur Kidang Mas dari aspek fisik semata. Lebih jauh dari itu, jika kita berusaha mengupas lebih dalam, sesungguhnya Kidang Mas memiliki makna filosofi hidup. Epos pewayangan "Ramayana", mungkin bisa menjadi salah satu titik tolak untuk mengupas dapur Kidang Mas. Cerita Ramayana memiliki banyak pituduh, kaweruh dan berbagai pelajaran hidup. Dari mulai kesetiaan, kepahlawanan, pengorbanan, cinta kasih, bahkan bisa digali sebagai perjalanan spirituil seorang perempuan. Disini memang tidak akan diulas hal2 yang lebih mendetail, tetapi hal yang lebih fokus pada pemaknaan atas dapur keris Kidang Mas.
- Tulisan MM. Hidayat; Gallery Keris Ujung Galuh - Disadur posting Face Book 26 Des 2009; Wall Photos; Iklan Back Cover PAMOR #13
- |
|
| |
Category : Filosofi
| Posted By : administrator |
|
|
| 27 Dec 2009 07:33:34 am |
KERIS ibarat SATRIYO KINUNJORO |
|
|
Pelukis Hardi
Dalam suatu sarasehan keris di Fadli Zon Library, pada tgl 22 Desember ini, pembicara pakar senior Haryono Guritno mengatakan atau lebih tepatnya memberikan warning, kepada kita dan pemerintah, bahwasanya pengakuan UNESCO, bisa dicabut, bila kita tidak mampu meng-ilmiahkan keris, serta membangun sebuah konsep pendidikan berkelanjutan.
Hadir pada acara tersebut adalah para pemikir/kolektor juga gallery keris. Suatu pertemuan skala kecil yang komplit. Mengingat umur penciptaan keris sudah berabad-abad, jauh lebih dulu daripada cabang senirupa lainnya, maka boleh dibilang wacana eksistensi keris jauh ketinggalan.
Hal tersebut saya ibaratkan sebagai SATRIYO KINUNJORO atau satriya yang dipenjara, dengan analogi patung Budha dalam stupa di Borobudur. Keris, selama ini berada dalam tabir asap, remang-remang, terkurung dalam penjara mitos, klenik dan supra natural. Film-film horor menggunakan keris sebagai aksesori roh jahat. Para kolektornya di musyrik-musyrikkan, dan disirik-sirikkan, dianggap menyembah keris, tidak menyembah Tuhan. Sementara cabang seni yang lain seperti lukisan yang baru muncul di Jawa zaman Raden Saleh akhir abad 19, melejit dengan wacana-wacana dan prestige yang tinggi.
Pemarjinalan yang sistemik ini harus diakhiri, dibuka sekat-sekat yang mengelilinginya, sehingga Keris menjadi Satriya Kemerdekaan yang gagah.
Sangat Patut dipuji upaya pribadi, atau lembaga seperti Bentara Budaya, serta kraton-kraton yang selama sebagai patron, dalam melestarikan keris perlu mendapatkan sebuah AWARD dari organisasi keris. Pemerintah belum melakukan upaya maksimal, kecuali dengan adanya Museum Keris di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), tetapi upaya ini tidak dibarengi oleh suatu rekayasa Budaya yang komprehensip, juga kalau ada pameran-pameran masih bersifat sporadis.
Kohin seorang pekeris (kalau saya Pelukis), mengatakan bahwa profesinya selama ini oleh masyarakat dipandang sebelah mata. Juga Toni Junus, dengan majalah PAMORnya adalah lambang optimisme dikalangan pekeris (akademik?) atau intelektual, terhadap eksistensi keris masa kini. Toni mencoba (berhasrat) mewacanakan atau merumuskan keadaan supaya para pekeris tidak lagi dalam tabir asap kemenyan. Saya juga heran sekaligus bangga, bahwa pekeris FaceBooker adalah orang-orang muda yang masih percaya bahwa republik ini hebat.
Keris harus menjadi IKON tertinggi pencapaian SENI dan Kebudayaan, bagi bangsa nusantara ini.
Kita, komunitas pekeris harus berani ngongrok2 DPR, membuka mata mereka hingga bangun dari tidurnya, merancang undang-undang kebudayaan, dan memasukkan Keris sebagai mata pelajaran wajib. Saya ingin para pekeris (meliputi empu, desainer, kolektor, galery komersial, simpatisan) bisa memiliki kebanggaan sebagai pelanjut dari tradisi kreatifitas besar, bangsa nusantara Indonesia.
Kita canangkan sebuah kampanye besar untuk CINTA KERIS. Membeli keris, memamerkan dan industri kreatip ini akan bergulir, sekaligus menjadi ekonomi kreatip tidak berhenti sebagai konsep di departemen, dan uang rakyat diperlakukan sebagai barang jarahan oleh para birokrat.
Disadur dari tulisan pelukis Hardi dalam ‘facebook’.
Garuda bukan burung emprit yang terkurung oleh kebodohan kita, karena pembanggaan-pembanggaan feodalistik, sisa-sisa stereotype hegemoni kraton masa lalu. Keris ini diciptakan terinspirasi oleh sebuah sajak WS Rendra. Garuda tetap terbang diangkasa - Karya : Toni junus 2009 - Pamor Largangsir.
- |
|
| |
Category : Budaya
| Posted By : administrator |
|
|
| 10 Dec 2009 10:32:46 am |
Berguru Pada PUDHAK SATEGAL |
|
|
Oleh : Wawan Wilwatikta
Ungkapan yang sangat popular dalam kehidupan orang Jawa sejak dahulu yaitu ”Wong Jawa nggone semu, sinamun ing samudana, sesadone ingadu manis” yang berarti “Orang Jawa menyukai sesuatu yang semu, disamarkan dengan perlambang, diwujudkan dalam keindahan“. Semu berarti tersamar atau tidak tampak jelas. Ungkapan ini menunjukkan sifat orang Jawa yang dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain umumnya tidak secara langsung atau secara tegas lugas.
Pandangan hidup, nasehat dan ajaran-ajaran dalam kehidupan orang Jawa, merupakan hasil olah rasa berbudaya. Rasa budaya yang tidak dapat dinyatakan dalam komunikasi pergaulan sehari-hari, sering dinyatakan dalam bentuk simbol. Dalam kehidupan sehari-hari dijumpai penggunaan simbol-simbol sebagai pengungkapan rasa budaya pada suatu karya seni, seperti: pakaian, kain batik, upacara, ukiran, arsitektur dan senjata. Simbol-simbol pada suatu karya seni diharapkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi atau media untuk menitipkan pesan, nasehat atau ajaran bagi keluarga, masyarakat maupun generasi selanjutnya menuju peradaban luhur.
Tidak ada rumusan maupun ukuran timbangan yang pasti, dalam mengungkapkan simbol-simbol, bahkan setiap pernyataan yang muncul dapat dianggap sebagai suatu pengkayaan makna, sepanjang masih selaras dengan maksud utamanya.
Upaya mencari makna setiap simbol merupakan usaha untuk merawat sebagian dari budaya, agar memberikan arti yang sesungguhnya (esensi budaya). Dalam seni keris, salah satu simbol yang sangat menarik untuk dikaji dan diuraikan maknanya yaitu ricikan Pudhak Sategal.
Bunga pudhak atau pandan
Pudhak Sategal
Pudhak Sategal merupakan nama dari ricikan Keris yang terletak di bagian sor-soran di tepi bilah. Bentuk ricikan ini menyerupai daun Pudhak (Pandan) dengan ujungnya yang meruncing. Bentuk pola ini, untuk bagian belakang keris pangkal daun dimulai dari sisi tepi bagian bawah sor-soran kemudian meruncing ke atas, kurang lebih sejajar dengan panjang sogokan. Sedangkan untuk bagian depan, pangkal daun dimulai dari atas gandik.
Menurut Serat Centhini, sekar Dhandhanggula, bait ke 24-28 (1992:75) Pudhak Sategal merupakan dapur keris yang mempunyai luk 5 dengan ricikan kembang kacang, sogokan dan sraweyan yang diputus bagian bawah. Sehingga, pola Pudhak Sategal merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun Pudhak.
Menurut Bambang Harsrinuksmo (2004:376), ricikan Pudhak Sategal baru ada setelah Jaman Mataram Akhir dan popular pada jaman Surakarta. Keris tangguh Tua seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban dan Madura Tua tidak ada yang memakai ricikan Pudhak Sategal.
Apakah ricikan Pudhak Sategal merupakan pengganti atau terinspirasi pola Kinatah Kamarogan yang populer di jaman Mataram Sultan Agung? Ataukah, sebagai simbol cita-cita Panembahan Senopati saat berupaya mengembalikan kejayaan kerajaan Mataram dengan konsep “ganda arum”? Kata Mataram jika di jarwa dhosok-kan berasal dari kata Mata Arum yang berarti sumber keharuman. Konsep pemerintahan yang berdasar hati-nurani yang memberikan manfaat dan kemakmuran pada rakyat dan lingkungannya serta memberikan keharuman sepanjang masa. Belum ada catatan tertulis atau penelitian yang memastikan demikian dan tentu, masih memerlukan penelitian untuk pembuktian lebih lanjut.
Keris dengan phudak setegal berdhapur Jangkung Mangkunegoro (bhs: JW) koleksi Drs. Guntur Setyanto, MSc.
Pudhak Sategal merupakan ricikan keris seperti halnya dengan ricikan lain yang terdapat pada sebilah keris, antara lain : gandik, sogokan, tikel alis, pijetan dan kembang kacang. Pembuatan setiap ricikan oleh empu pada keris selain mempunyai tujuan fungsional, juga memuat makna filosofis.
Bentuk ricikan pudhak sategal pada bilah keris memang mirip dengan daun pandan/pudhak yang jika tampak dari depan, terlihat menyembul di kiri-kanan pohon dengan bentuk meruncing ke atas. Mengapa para pujangga/empu memilih pudhak sebagai simbol ajaran pada karyanya? Sebenarnya banyak pola yang serupa dengan daun pandan/pudhak yang meruncing misalnya: gading gajah, tanduk banteng, cula badak dan taring macan. Bentuk-bentuk tersebut mirip satu dengan lainnya, tapi mungkin saja kurang mempunyai makna yang mendalam dan kurang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Empu Keris jaman dahulu memberikan gambaran pada kita, bahwa mereka merupakan pekerja seni sekaligus spiritualis. Mereka mempunyai kesanggupan untuk memberikan tema universal yang menyangkut kehidupan sehari-hari manusia pada setiap karya mereka. Mereka menjadikan Keris menjadi suatu media introspeksi diri terhadap nilai-nilai humanis dan spiritual.
Pandan atau Pudhak
Pandan (Pandanaceae) merupakan tumbuhan yang sangat lekat dengan kehidupan orang Jawa sejak jaman kuno. Daun pandan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pewarna makanan, penyedap masakan, sebagai obat, tikar, kosmetik, sarana upacara, maupun sebagai bahan pememeliharaan batik. Masyarakat banyak memanfaatkan pohon pandan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk daun pandan menghadap ke atas meruncing diujung dan sering melingkar di sebatang pohon, sehingga tampak dari depan mencuat di kiri dan kanan. Bunga pohon pandan dinamakan Pudhak, namun daun pandan sendiri sering disebut Pudhak. Pudhak merupakan bunga yang mempunyai aroma harum lembut (tidak menyengat) selama berhari-hari dan menebar aroma harum menjelang sore hari. Tumbuhan ini mudah hidup tanpa pemeliharaan khusus dan banyak ditanam dipekarangan atau ladang maupun sebagai tanaman pagar.
Bagi para pujangga/empu jaman kuno, sifat dan manfaat dari Pudhak sangat menarik untuk diabadikan pada karyanya. Mereka berusaha untuk menghayati peranan alam bagi manusia atau sebaliknya. Mereka banyak belajar dan mengambil sesuatu dari alam sekitar sebagai bagian dari ajaran hidup yang bernuansa religi. Simbolisasi Pudhak pada bagian dari Keris merupakan jalan menuju pengalaman spiritual yang menumbuhkan kesadaran hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Para Empu membuka kesadaran manusia untuk selalu mengagumi alam, kemudian mengagumi sang Pencipta. Mereka berusaha mengabadikan dasar-dasar religius alam semesta pada hasil karya teknologi dan budaya untuk meningkatkan kualitas spiritual.
Memberi Tanpa Diminta
Pohon pandan merupakan pohon perdu yang banyak tumbuh dan dijumpai dipekarangan maupun dipinggir jalan pedesaan. Sekalipun tampak tidak berguna, pohon ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Daunnya dapat digunakan sebagai tikar, perwarna alami dan menambah aroma pada makanan, bahkan sebagai obat.
Demikianlah, dalam kehidupan ini apakah hidup kita telah memberikan manfaat dan warna bagi orang lain, seperti daun pandan. Bukan sebaliknya seperti ”benalu”, justru merugikan dan membebani orang lain. Ada piwulang Jawa yang mengatakan “urip iku kudu migunani tumraping liyan” yang berarti “hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain”. Sebaik-baiknya orang yaitu yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Sangat berbeda kehidupan modern yang jauh dari nilai-nilai tradisi. Hubungan antar manusia lebih banyak dihitung sejauh menguntungkan atau merugikan secara material. Kepuasan secara material, akan mengikat manusia pada kebudayaan pasar yang umumnya akan berdampak terhadap pemerosotan esensi budaya yang berorientasi spiritual.
Terkadang kita merasa belum cukup untuk berbuat baik bagi orang lain, karena secara materi belum mampu atau merasa bahwa perbuatan kita tidak akan berdampak banyak bagi orang yang membutuhkan. Menjadi orang yang berguna bagi orang lain tidak harus selalu memberi sesuatu hal yang sifatnya materi (harta/uang). Tenaga, pengetahuan, nasehat, perbuatan yang baik, menentreramkan dan perhatian merupakan bantuan moril yang dapat kita berikan selain materi. Setiap saat kita dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain, asal kita ada keikhlasan hati untuk beramal (Jawa: Sepi Ing Pamrih). Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, sedikit kebaikan yang mampu kita berikan akan memberikan manfaat dan makna yang besar bagi orang lain. Di hadapan Tuhan, bantuan yang diberikan kepada orang lain tidak dilihat dari jumlahnya. Bobot suatu amal tergantung dari usaha yang kita lakukan dan keikhlasan hati.
Pohon Pandan memberikan manfaat dan makna pada kehidupan manusia tanpa harus menunggu menjadi pohon Kelapa. Pohon pandan sangat memikat bagi para pencari spiritual, ia memberi manfaat bagi kehidupan tanpa diminta. Memberi bukan berarti kehilangan kepemilikan, akan tetapi merupakan pengungkapan perhatian manusia untuk mencintai kehidupan. Sehingga, memberi dan berkorban merupakan ekspresi paling tinggi dari suatu kemampuan. Maka, sekecil apapun kebaikan yang kita berikan, dapat besar artinya orang lain, berguna bagi sesama akan membuat hidup lebih bermakna.
Keselarasan Hidup
Daun Pandan tumbuh simetris-seimbang mengelilingi batang pohonnya dan menjulang ke atas. Daun pandan memberikan gambaran mengenai keharmonisan atau keselarasan. Pandangan Jawa mengenai keharmonisan atau keselarasan bagi sesama (sosial) dan lingkungannya (alam) menjadi suatu hal yang penting. Pandangan ini bukanlah sesuatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya menghadapi masalah kehidupan. Leluhur menyadari betul, bahwa mereka merupakan bagian dan fungsi dari alam, sehingga bahasa alam merupakan rujukan dalam menjalani kehidupannya.
Dalam kehidupan ini, orang perlu menciptakan suasana ketentraman, ketenangan, dan keseimbangan batin pada dirinya maupun bagi sesamanya. Hal tersebut terwujud dengan menciptakan kerukunan, sikap hormat dan menghindari konflik.
Dengan demikian, dalam kehidupan orang hendaknya selalu berusaha menjaga keselarasan sosial, bersikap menyesuaikan diri, bersikap sopan santun, dan mewujudkan kerja sama, serta bersikap menghormati kepada orang lain. Hal tersebut memposisikan akal dan rasa dalam diri secara seimbang untuk mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan.
Menebar Keharuman
Pudhak Sategal menggambarkan wangi yang terus menerus tiada henti (angambar-ambar ganda arum) dari ladang yang luas. Keharuman yang menebar memberikan rasa tenang dan meningkatkan kesabaran dan keheningan dalam berfikir dan bertindak.
Keharuman memberikan rasa tenteram dan rasa menyenangkan bagi yang menciumnya. Orang hidup di dunia ini, hendaknya menebarkan aroma harum, seperti harumnya bunga pudhak. Harumnya nama baik manusia sepanjang masa dan selalu dikenang, hanya dapat diperoleh dengan perilaku nyata yang memberikan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya.
Menebar aroma arum harus didasari ulat manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama.
Ulat manis kang mantesi, yaitu bersikap ramah dan menyenangkan hati orang lain, menanggapi seseorang dilandasi dengan kebaikan hati.
Ruming wicara kang mranani, yaitu setiap pembicaraan disampaikan dengan cara yang halus, menarik dan menentramkan hati orang lain, bukan sebaliknya justru membuat suasana menjadi gundah.
Sinembuh laku utama, yaitu setiap perbuatan dilandasi dengan keikhlasan dan perilaku yang baik (laku utama). Dengan demikian, diharapkan dapat membuat orang menebarkan keharuman (kebaikan) hidupnya bagi orang lain.
Kesimpulan
Pudhak Sategal merupakan simbol dari bunga pandan (pudhak) satu ladang. Bunga pandan satu ladang yang jumlahnya sangat banyak, memberikan keharuman yang tiada habisnya bagi lingkungannya. Meskipun berlimpah, tetapi tidak menganggu, karena justru keharumannya menyenangkan dan menenteramkan. Daun-daun pandan tersusun secara harmonis melingkari batang pohonnya, terlihat selaras dan seimbang. Daun Pandan memberi warna dan aroma pada berbagai jenis makanan. Penamaan Pudhak/Pandan sebagai ricikan keris merupakan manifestasi dari besarnya manfaat bagi kehidupan manusia.
Penggambaran Pudhak pada sebilah keris karena sarat dengan makna dan ajaran-ajaran hidup bagi manusia. Dalam menjalani kehidupan, orang mencapai keutamaan apabila bermanfaat, menyenangkan, menjaga keselarasan dan menentreramkan bagi orang lain dan lingkungannya. Pudhak Sategal memberikan makna bahwa dalam kehidupan, banyaklah berbuat kebaikan agar jati diri menebar harum dan dikenang sepanjang masa. (WW)
Bahan Bacaan:
Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedia Keris, cetk.1,Gramedia, Jakarta, 2004.
Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, Hanindita Graha Widia, cetk 4, Yogyakarta, 2001.
Franz Magnis Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafah tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa., Cetk: 9, Gramedia, Jakarta, 2003
Ng. Ranggasutrasna, Sunan Pakubuwana V, Serat Centhini, Jilid II, Terjmh: Darusuprapta, cetk.1, Balai Pustaka, 1992
Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa, Cakrawala, cetk.2, Yogyakarta, 2006.
Dikutip dari Semi Jurnal PAMOR edisi 11.
- |
|
| |
Category : Filosofi
| Posted By : administrator |
|
| |
| 1 |
|
|
|
|
|
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
|
|
| |